Rabu, 22 Februari 2012

Ya Allah, Aku Jatuh Cinta


Ya Allah, Aku Jatuh Cinta


Nhtabindtanq, 18 Juni 2010

   
 “Ya Allah jika Ronal bukanlah yang terbaik untukku, hilangkan rasa yang begitu menyakitkan ini, hapuskanlah semua bayangannya yang menari-nari dalam imajinasiku, dan tunjukanlah adam yang dapat menjadi imamku kini atau pun selamanya, yang akan membuatku semakin mencintaiMu dan RasulMu.” Itulah seuntai doa yang kurajut dalam malam yang tak berbintang ini. Terlalu menyakitkan untukku mencintai seseorang yang selalu membuatku menangis. Menangis karena aku berfikir aku tak pantas untuknya, karena aku tak bisa membahagiakannya, dan pada akhirnya kini hanyalah tangis akan luka yang tertoreh dihatiku mulai terurai. Karena luka ini, ku buat tanganku meneteskan darah, sungguh mungkin aku bodoh. Tapi, aku terlanjur sakit dan terlanjur mencintainya begitu dalam. Apakah ini yang namanya cinta? Ataukah hanya nafsu belaka? Nafsu, untuk memiliki dia seutuhnya. Kini yang aku lakukan hanyalah menyiksa tubuhku sendiri, dengan bodohnya aku menulis inisial namanya dilenganku dengan pisau, aku pun tak mau makan dan tiap aku sendiri, aku selalu menangis. Aku hampir gila dibuatnya, aku ingin diriku yang dulu kembali. Sosok ceria dan hangat selalu melekat didiriku. Namun, kini hanya kelemahan yang setia hinggap didalam diriku.
***
            Pukul sembilan pagi aku sudah dihadapkan dengan buku bantal, wajar saja jika buku ini disebut buku bantal, karna memang buku ini seperti bantal yang berisi setumpukan soal-soal untuk SNMPTN 2010.
“Oh Tuhan, kapan aku bisa lepas dari semua buku-buku ini. Hhuft..” ujar dalam hatiku.
“Bintang…” teriakan Bulan dari depan gerbang, dan dengan senyum sumringahnya, ia pun berlari menujuku.
Kebahagiaan kami ketika saling bertemu, membuat orang lain berfikir seolah kami sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Padahal setiap hari kami saling bertemu. Dan itulah yang membuat kami selalu membawa keramaian dimana pun kami berada.
“Dari mana kamu Bulan? Kok jam segini baru muncul? Bukannya kamu penghuni tempat les ini?” aku pun seolah memburunya dengan pertanyaan-pertanyaan.
“Sabar dulu dong Bu, aku ini nggak bisa pergi pagi-pagi. Karena aku harus masak dulu, biasalah aku kan nggak kayak kamu, yang cuma bisa masak air doang, iyakan?” ucapnya lantang,
“Hhuft.. kamu itu buka aib orang ajah..! dan kami pun saling tertawa.
Tidak lama kemudian bel berbunyi, aku pun kembali masuk kedalam ruanganku, karena hal itu menandakan pelajaran selanjutnya akan dimulai.
***
            Dua jam pun telah berlalu, dan kini waktunya aku beristirahat dirumah. Seperti biasa, sebulum aku pulang dari tempat les. Aku selalu mencari keberadaan Bulan, untuk berpamitan dengannya. Kaki ini pun langsung membawaku ke meja bundar yang ada didepan tempat lesku, karena itu adalah tempat favorit aku dan Bulan. Dan akhirnya aku pun bertemu dengan dia.
“Kenapa sih Bu? Kok itu muka ditekuk mulu nanti bawelnya hilang loh.” Ledekku untuk mencairkan suasana.
“Kelas aku makin hari makin sepi ajah, penghuninya udah pada nggak jelas lagi.”jawabnya dengan BT.
Sejenak kami pun saling terdiam, aku juga nggak mau pulang gitu ajah ketika dia BT kayak gini.
“Mhmm.. gimana kalau kamu gabung ajah ke kelasku?” tawarnya, yang membuatku sempat kaget.
“Memangnya boleh gitu masuk kelas lain? Aku juga nggak enak sama teman-teman kamu.” Ujarku, yang seolah ingin menghindar dari permintaannya.
“Please. Ayo dong! Temen-temen aku yang lain asik kok, jadi tenang ajah, kan ada aku yang kamu kenal. Ok, mau iyah?” mohonnya padaku, dan membuatku tak bisa untuk mengelakan permintaannya.
“Ok deh.” Jawabku dengan sedikit cemberut. Namun, aku pun berfikir mungkin tawaran ini bagus buat aku yang sedang mengejar beberapa mata pelajaran buat SNMPTN tahun ini.
            Bel pun kembali berbunyi, lima belas menit pun telah berlalu. Namun, kelas Bunga baru terisi empat orang. Yaitu Aku, Bulan, Mardi dan Ardian. Pertama kali aku masuk kelas ini, aku tak sedikit pun berbicara karena aku takut mereka menganggapku sok kenal sok dekat, lagi. Namun ketika Farid datang, kelas yang tadinya sunyi kini telah berubah menjadi sebuah pasar malam, dimana kata-kata kongekan mulai mengudara ditelinga kami yang mendengarnya. Saat itulah aku seolah menjadi bagian dari mereka, karena pada saat itu aku pun mulai berani untuk membuka suara dan membalas kongekan yang tertuju padaku. Tidak lama setelah kedatangan Farid, Batur dan Ajeng pun masuk kelas. Ketika semuanya sudah berada dikelas, aku baru bisa memastikan bagaimana karakter mereka masing-masing. Yang pertama ada dalam pikiranku adalah sosok Farid, dia memang cowok tulen. Namun, sikap dan gaya bicaranya membuatku tanda tanya akan kepastian dirinya. Gimana aku tidak tanda tanya, cowok yang satu ini senang sekali berbicara dan mengongek, yang sering menjadi bahan kongekannya adalah Ardian. Ardian acap kali dipanggil “badak” oleh Farid, mungkin pangilan itu ada karena fisiknya yang mungkin sedikit subur. Namun bagiku tubuh Ardian itu cukup standar karena ia tidak terlalu gemuk dan ia pun termasuk cowok yang tinggi bagiku, secara sifat mungkin Ardian kebalikannya dari sifat Farid, karena Ardian termasuk cowok yang nggak banyak omong. Kini pikiranku jatuh pada cowok yang duduk dibelakang Farid, namanya Batur. Cowok yang satu ini memiliki tubuh yang standar dengan penampilan yang casual, secara sifat ia sama dengan Ardian. Namun, menurutku ia jarang untuk gabung dalam pembicaraan kami.  Satu cowok lagi namanya Mardi, dia selalu duduk dibelakang. Padahal aku paling males kalau udah dibelakang soalnya banyak makhluk nggak jelas yang kadang mengganggu pandanganku. Menurutku Mardi itu agak lemot, tapi dia suka mengundang tawa karena tingkah bodohnya, yah cukup mengasikkan bila jadi bahan kongekannya si Farid. Dan yang terakhir adalah Ajeng, wanita ini berada dibelakangku, ketika aku melihat wajahnya aku langsung bisa pastikan bahwa cewek yang satu ini pendiam dan tidak banyak omong, tapi jangan salah cewek ini juga asik diajak tukar pendapat atau sekedar mencairkan suasana.
***
“Whuahh, astagfirullah…” sontak, aku pun terbangun dari tidur lelapku.
“Ya Allah, kok mimpinya aneh sih? Nggak nyambung, kenapa aku memimpikan si Ardian? Apa hubungannya denganku?” aku pun bertanya-tanya, wajar saja jika aku bingung karena aku baru dua hari mengenal sosok Ardian tapi, mengapa dia muncul dalam mimpiku?
            Detik, menit, jam, dan hari pun telah berlalu. Tidak terasa aku telah menjadi bagian dari kelas “exe 108” ini. Kami pun saling membaur, tidak hanya dikelas saja aku mengakrabkan diriku dengan mereka namun, di facebook dan di sms. Seperti yang terjadi malam ini, kebiasaanku setiap malam adalah tidur diatap untuk melihat langit dan bintang-bintang, karena dengan seperti itu aku merasa sangat dekat dengan mama yang telah berada disisi-Nya. Dan apabila angin malam menerpa tubuhku, aku selalu merasakan hangatnya dekapan mama memeluk erat tubuhku. Namun, kini aku merasa ada kejanggalan dengan suasana langit malam ini, kejanggalan yang membuatku bertanya-tanya dan membuat mataku seolah tak ingin berpaling dari keindahan suasana langit malam ini. Hal yang menurutku aneh adalah malam ini bulan dilingkari cahaya putih disekelilingnya, dan tak ada satu pun bintang yang menampakan cahayanya padaku. Akhirnya aku memutuskan untuk send all sms ke semua teman-teman ku.
“all.. guys coba deh keluar dan lihatlah langit malam ini. Disekeliling bulan melingkar cahaya putih.” Inilah isi sms yang aku kirim ke semua teman-temanku, termasuk teman les ku. Tidak lama kemudian beberapa temanku menanggapi fenomena yang menurutku aneh ini.
“Eh, iya Bintang. Ada cahaya putih yang melingkari bulan. Tapi, kata mama itu biasa.” Tanggap Bulan. Dan tidak lama kemudian Ardian pun membalas smsku.
“Eh iya.. Emang lingkaran apaan? Ini siapa iya?” wajar dia bertanya ini siapa karena dia belum tahu nomorku, dan ketika itu aku pun lupa untuk miscall dia setelah ia memberi nomor handphonenya padaku. Akhirnya pikiran jail pun mulai menyala dalam benakku. Jadinya sekalian ajah aku mengerjainya.
“tebak dong siapa aku? Kluenya nama aku tertulis dalam buku les kamu.” Balasku, yang aku yakin pasti akan membuat dirinya penasaran. Nama facebookku memang tertulis didalam bukunya karena saat itu aku menyuruhnya untuk ngeadd aku.
“Buku?? Buku mana? Gak ada ah??” jawabnya yang seolah pasti.
“Buku koding les kamu. Mhmm, nama aku juga berhubungan dengan langit malam. J” ujarku yang mungkin membuat dirinya makin penasaran dengan siapa aku yang sebenarnya. 
“Bul-bul iya? Gak ada orang yang pinjem buku koding gue. Aneh-aneh ajah, mana ada orang yang nulis dibuku koding gue kecuali gue sendiri.” jawabnya yang begitu meyakinkan bahwa dia benar.
“Bukan! Yakin nama aku nggak ada dibuku koding kamu? Coba deh cari dulu. Aku Bintang. Hahaha..” ujarku dengan senang karena telah membuat dia bertanya-tanya tentang siapa aku.
“Oiya.. Bintang,  hahaha.. kemaren lu yang nulis dibuku koding gue. Hhehehe.. Eh kenapa tuh bulan ada lingkarannya? Gerhana iya?”dia pun membenarkan tentang apa yang aku ucapkan tadi, dan ia pun mulai memburuku dengan pertanyaan mengenai lingkaran putih yang melingkari bulan.
***
            Kehilangan Ronal, membuatku mencoba membencinya dengan berbagai cara, salah satu cara yang aku gunakan untuk melupakannya adalah mencari sosok penggantinya. Ketika aku sedang mencari sosok yang bisa membantuku melupakannya, tiba-tiba Kiki muncul dalam hidupku, dia temannya Ronal dalam sebuah klub olahraga yang pernah aku geluti pula. Namun, mereka bukanlah teman dekat dan hanya sekedar kenal, sapa dan senyum. Dan ketika Kiki menyatakan cintanya padaku, kesempatan ini tidak aku sia-siakan karena aku pikir aku butuh seseorang yang membantuku untuk memulihkan hatiku dan menghilangkan ingatanku akan sosok Ronal. Akhirnya aku dan Kiki pun menjalin hubungan, aku pula telah memberi tahunya bahwa untuk saat ini aku masih menyayangi Ronal, dan aku berharap dia bisa membantuku untuk melupakannya. Ia pun memaklumi dengan apa yang terjadi pada diriku saat ini. Akhirnya untuk menghilangkan bebanku, ia mengajakku ke pantai. Ia tahu bahwasannya aku sangat menyukai keindahan alam. Kesempatan ini pun tidak aku sia-siakan, karena aku memang butuh refresing.
“Bip..bip..bip..” suara handphoneku pun berdering, aku yakin pasti ini Kiki.
“Halo.. Assalamualaikum.” Sapaku.
“Waalaikumsalam wr wb..” dengan lengkapnya ia membalas salamku.
“Kenapa Ka? Hari ini jadikan?” tanyaku, namun sebenarnya dihati kecilku aku tak ingin jalan dengannya, entah mengapa hati ini tak tenang.
“Jadilah dek. Tapi, kakak nyusul kamu dimana?”  dengan semangat ia menjawab tanyaku.
Sejenak aku pun terdiam, mungkin karena hati kecilku menolak untuk jalan dengannya makanya aku sedikit bingung seperti ini, akhirnya aku pun bertanya pada Bulan.
“Bulan.. gimana nih, dia mau ngajak aku pergi. Tapi jujur aku males banget, disisi lain aku nggak enak buat nolak ajakannya.” Ujarku dengan wajah manyun.
“Udah suruh dia kesini ajah.” Jawab Bulan dengan entengnya.
Karena aku sedang bingung, aku pun lupa bahwasannya ada seseorang yang menunggu jawabanku ditelepon.
“Dek? Gimana?” ucapnya yang kini telah membuatku tersadar kembali.
“Mhmm.. gimana kalau kakak susul aku ditempat les?” usulku dengan berat hati. Dan dia pun langsung menyetujuinya.
Selama ia dalam perjalanan, aku pun berusaha untuk mengulur waktu agar aku dan ia tidak jadi pergi. Ternyata Allah masih menyayangiku, ketika aku bingung bagaimana caranya untuk mengulur waktu pergi dengannya, akhirnya pada saat itu Bulan mengajakku untuk makan. Aku pun segera bergegas menuju ketempat makan bersamanya.
“Bulan..” panggilku dengan lemasnya.
“Kenapa sih, itu muka lecek amat? Nanti jeleknya hilang loh..hhaha..” jawabnya yang mencoba mencairkan suasana hatiku.
“Jujur, aku nggak punya perasaan apa-apa sama Kiki. Dan aku pun telah memberi pengertian padanya bahwasannya untuk saat ini aku masih menyayangi Ronal, eh malah ia dengan polosnya dia bilang bakalan bantu aku melupakan Ronal. So, aku jadi nggak enak gini. Dan sekarang ia ingin mengajakku pergi akan tetapi, hatiku kini makin tak tenang. Aku harus gimana?” ujarku, perasaan ini seolah menjadi beban bagiku.
“Gini loh, kalau kamu nggak suka  or nggak punya perasaan apa-apa sama dia yah kamu bilang ajah, toh mungkin itu yang terbaik. Dari pada kamu menerima dia, tapi disatu sisi kamu nggak suka sama dia. Aku takut pada akhirnya dia membenci kamu.” Jawab Bulan, dengan gaya bahasa seperti orang dewasa.
Sejenak aku merenungkan apa yang telah ia katakan padaku. Hal itu pernah terlintas dalam benakku, namun aku takut dia kecewa padaku jika aku menolak perasaannya. Entahlah, kini aku ingin seperti air yang mengalir dengan sendirinya. Ketika aku masih merenung tiba-tiba handphoneku berbunyi dan memecahkan kesunyian di café ini.
“Assalamualaikum..” Sapaku.
“Waalaikumsalam.. dek kakak udah didepan tempat les kamu, kamu dimana?” pertanyaannya sedikit membuatku bingung.
“Mhmm.. kak, maaf iya aku lagi nganterin temen aku makan, kakak bisa nggak nunggu. Tapi, aku juga nggak maksa kakak buat nunggu loh!” ujarku dengan perasaan yang tak enak.
“Yaudah, kakak bakalan nungguin kamu kok.” Ketika ia menjawab seperti itu aku makin merasa tidak enak kepadanya, aku merasa bahwa aku jahat. Tapi, ia pun sudah tau apa yang aku rasakan dan ia menerima semua ini, jadi seharusnya perasaan bersalah tidak hinggapi benakku. Entah perasaan apa yang ada dibenakku ini, rasa takut, bersalah, dan tidak tenang membaur dan memenuhi lubang hatiku, hingga aku merasa sesak dibuatnya. Lima belas menit setelah Kiki menelponku pun telah berlalu dan kini aku berada tepat dihadapannya bersama Bulan yang berada disampingku.
“Mhmm.. kak, kenalin ini temanku.” Aku pun langsung menarik tangan Bulan, dan akhirnya setelah ia berkenalan dengan Bulan, aku pun pergi bersamanya membawa segenap keresahan hatiku. dan selama dalam perjalanan menuju pantai, aku hanya diam mematung. Karena, aku merasa aneh berada dibelakangnya.
***
            Angin berhembus dengan tenangnya, pasir yang lembut kini memenuhi sela-sela jari kakiku, ombak yang begitu tenang terhampar disetiap pandangan mataku. Dan ketika aku melirik kepondok tempat Kiki beristirahat, aku melihat Kiki tersenyum padaku, mungkin ia merasakan kesenanganku yang sejenak melepas beban pikiranku karena Ronal. Duduk dalam pondok kayu, memandang hamparan langit yang amat luas, begitu pula dengan ketenangan ombak yang makin membuatku menikmati suasana ini. Akan tetapi, itu hanya sejenak. Karena, Kiki telah membuyarkan lamunanku ketika ia memegang tanganku dan memintaku untuk melepas jilbabku. Memang baru seminggu aku memakai jilbab, aku berusaha untuk menutupi rambutku yang cukup panjang dan lurus, karena aku berfikir ini adalah auratku dan hanya keluarga, muhrim, serta suami dan anak-anakku kelaklah yang bisa melihatku tanpa mengenakan jilbab. Namun, hal ini bukanlah alasanku untuk mengenakan secarcik kain yang berada diatas kepalaku. Alasan utamaku merubah penampilan aku adalah aku seorang wanita, aku wajib menutup auratku, aku pun bosan dengan gaya hidupku kini. Aku ingin merasakan dekatnya keberadaan Allah SWT dengan hati dan jiwaku, karena aku merasa hanya ketenangan batin dan jiwalah yang bisa membimbingku dalam jalan yang baik untuk kehidupanku, aku pula berharap Allah memberikan aku seorang imam yang kelak akan membimbingku dengan baik. Seperti yang tertera dalam QS 24 An-Nur : 26 sebagai berikut ini.
            “Wanita-wanita yang keji/jahat adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula. Orang itu terlepas dari tuduhan yang mereka ucapkan (orang baik itu tiada bersalah), mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia(surga).”
            Seketika itu aku langsung menarik tanganku dan menangis sejadi-jadinya. Mungkin karena ia panik, ia pun segera menenangkan aku dan mencoba memelukku. Akan tetapi aku malah mendorongnya dan meminta untuk pulang saat itu juga.
“Aku mau pulang sekarang!” rengekku padanya.
“Tapi, kitakan belum lama sampai disini.” Jawabnya untuk mencegah kepulanganku.
“Kalau kamu nggak mau pulang, aku akan pulang sendiri. Toh tanpa kamu aku juga bisa kok nyampe rumah.” Aku pun melangkahkan kaki untuk menjauhinya. Baru beberapa langkah aku berjalan tangannya menggapai tanganku.
“Iya, aku anterin kamu pulang. Tapi kamu nggak marahkan padaku?” tanyanya yang panik akan kemarahanku padanya.
“Sudahlah, lepasin tangan kamu. Aku mau pulang sekarang juga!” sentakku padanya, akhirnya ia pun mengantarkanku pulang dan selama diperjalanan ia memohon maaf padaku. Namun, bukannya aku tak mau memaafkan dia, akan tetapi aku masih kesal terhadapnya. Dia pikir aku ini pakai jilbab cuma buat nutupin kepalaku saja apa?  Kesalku dalam hati. Setelah aku sampai dirumah aku pun mengucapkan terima kasih padanya dan bergegas lari menuju kamarku tanpa ku lirik sedikit pun kepergiannya meninggalkan rumahku.
***
            Kesal dan letihnya hari ini membuatku tertidur dengan tenangnya. Kini aku pun berada dalam alam mimpi, ditaman ini aku merasakan ketenangan dan aku pun berjalan menuju kursi yang ada dibawah sebuah pohon yang sangat rindang. Dikursi itu ada seorang pria yang sedang duduk usai melatih teman-temannya bermain parkour. Aku pun tertarik dengan olahraga yang pernah aku geluti ini, oleh sebab itu aku mempercepat langkahku dan menyapa pria yang duduk itu. Namun, betapa kagetnya aku ketika ku sapa pria itu, ternyata Ardian teman lesku. Hal itu membuatku segera terbangun dari mimpiku, dan untuk kesekian kalinya Ardian muncul di alam bawah sadarku. Tidak lama setelah kesadaranku dari mimpi anehku itu, tiba-tiba handphoneku berbunyi yang menandakan seseorang mengirim sms padaku. Ketika aku buka sms itu, ternyata Ardian yang mengirim sms padaku, untuk mengingatkan ku melaksanakan sholat tahajud. Hal ini sungguh membuatku tersentak.
“Ya Allah, apalagi yang Engkau lakukan. Aku sungguh tak mengerti.” Tanyaku dalam hati. Seketika itu aku menuju kamar mandi dan membasuh wajahku dengan air wudhu, lalu ku ambil mukena yang ada dikamar dan kembali bersua kepada Yang Maha Kuasa dalam keheningan malam ini. Dalam doa kupanjatkan rasa syukur ku, ku urai segala kesalahanku dalam tangisan malam ini, dan ku pinta yang terbaik untuk hidupku kelak.
“Ya Allah, aku bersyukur atas setiap detik hembusan nafas yang Kau berikan padaku, tanpa memintaku untuk membayar semua oksigen yang telah aku hirup. Terima kasih atas segala kemurahan Mu yang selalu memaafkan segala kesalahanku dan Engkau hanya meminta keimananku. Ya Allah, aku telah letih dengan perasaan yang mempermainkan jiwaku, ku mohon petunjuk yang terbaik buat hidupku.” Itulah pintaku untuk malam ini. Seusai ku shalat, aku pun langsung mengambil handphoneku dan memutuskan untuk menjalin pertemanan dengan Kiki. Aku tak mau ada hubungan khusus dengan seseorang yang tak bisa menghargaiku sebagai sosok wanita berjilbab.
***
“Mami… nama FBnya Ardian tahu nggak?” tanyaku pada Ajeng, aku memanggilnya dengan sebutan “mami”, dan untuk Bulan aku memanggilnya dengen sebutan “bunga”, kalau Ardian kupanggil “ndud”. Hhahha.. aku memang paling suka merubah nama seseorang karena, bagiku itu adalah panggilan sayangku untuk mereka semua.
“Owh, namanya kalau nggak salah Ardian Firmansah. Coba ajah kamu add dia.” Aku pun langsung menulis namanya di research-nya FB. Setelah itu muncul beberapa nama Ardian dan Ajeng pun menunjuk salah satu nama Ardian yang aku cari. Sebelum aku mengeadd dia menjadi temanku, aku terlebih dahulu melihat info tentangnya. Dan betapa kagetnya aku ketika aku lihat ia lahir tanggal 06 September 1992, tanggal dan bulan itu sama dengan tanggal dan bulan meninggalnya mamaku.
“Ya Allah, kenapa harus anak ini lagi.” Keluhku dalam hati.
***
            Rutinitasku telah kembali, aku pun harus belajar keras agar aku bisa masuk fakultas yang aku inginkan yaitu Hukum UNILA, aku menginginkannya karena aku bercita-cita untuk menjadi seorang penegak HAM seperti Munir, kadang aku berfikir kelak aku akan menjadi “Munirwati” hhahha.. moga saja ini bukan sekedar impian. Untuk mengejar semua impianku aku berjuang dengan semua kemampuan yang aku punya. Dan sore ini waktunya aku les tambahan mempelajari geografi. Disela-sela pembicaraan kami mengenai pelajaran, tiba-tiba mataku terasa sakit sekali dan bagian kepala serta tungku leherku terasa berat dan amat sakit. Akhirnya aku meminta izin untuk mengakhiri pelajaran ini dan guruku pun mengusulkanku untuk segera pulang, karena dengan kondisiku yang seperti ini tak memungkinkan untukku kembali belajar. Aku pun masuk kekelas untuk mengambil tasku, saat aku masuk kekelas, sungguh aku merasa sudah tiada daya lagi pada kakiku untuk menopang tubuh rapuhku ini.
“Assalamuaikum..” aku membuka pintu kelas dan masuk kedalamnya. Saat aku masuk semua teman-teman yang berada dikelas berkata bahwa wajahku pucat sekali.
“Ya ampun, wajah kamu pucat banget Bintang.” Ujar Bulan.
“Iya, wajah kamu pucat tahu.” Jawab Ardian yang seolah membenarkan pernyataan Bulan. Saat itu aku bergegas menuju dispenser yang berada diujung kelas dan segera mengambil minum. Namun, ketika aku ingin meletakan gelas di meja, tanganku tiada daya dan aku merasa pandanganku mulai gelap saat itu aku berusaha untuk tetap memandang sekelilingku, akan tetapi usahaku sia-sia saja karena semakin aku mencoba untuk melihat, pandanganku semakin gelap. Akhirnya aku merasakan tubuhku lemah sekali, dan aku terjatuh, sempat sejenak aku merasakan kepalaku sakit karena membentur lantai karpet, akan tetapi itu semua hilang bersama pingsannya aku.
“Bintang?? Bangun dong.” Ujar seseorang, dan sepertinya aku kenal dengan suara ini karena sudah tak asing lagi suaranya bagiku. Ketika aku bukakan mata, aku melihat teman-teman dan guru tempat lesku berada disampingku. Meskipun awalnya aku tak mengenal wajah mereka, karena pandanganku yang masih kabur namun, sejenak kemudian mata ini melihat jelas siapa saja yang ada didekatku. Akhirnya pihak tempat lesku memutuskan untuk menelpon papa dan memberitahukan tentang kondisiku saat ini. Tidak lama kemudian papa pun menyusulku dan mengucapkan terima kasih kepada guru yang tadi membantuku. Aku dan papa langsung berpamitan dan bergegas menuju mobil. Sesampainya aku di mobil papa mulai mengingatkan aku mengenai penyajkit yang ada dalam tubuhku, jujur aku BT banget saat papa mengingatkanku tentang hal yang paling aku benci.
“Seharusnya kamu sadar bahwasannya kamu itu punya banyak penyakit, apalagi kamu punya gen kanker tapi kamu nggak pernah bisa buat jaga kondisi badan kamu. Dari dulu anak papa yang paling sering pingsan dan sakit itu yah cuma kamu, coba kamu hitung sudah berapa kali kamu pingsan sejak kamu SMP. Apa kamu lupa dengan kata-kata dokter? Dokter bilang semakin kamu lemah dan sakit, semakin mudah gen kanker itu berkembang dalam tubuh kamu. Yang bisa melawan penyakit itu cuma diri kamu sendiri, percuma dong kalau papa mengusahakan berbagai kesembuhan untuk kamu jika kamunya juga kayak gini.” Ucapan papa ini membuatku benci akan kondisiku yang lemah ini. Aku juga nggak mau kayak gini, aku cuma berusaha untuk menjadi orang yang normal seperti orang lain meskipun tubuh ini tak memungkinkan untuk aku melakukan itu semua. Apa yang aku suka selalu dilarang dengan alasan tubuhku tak memungkinkan untuk melakukannya. Aku suka basket, karate, parkour, dan manjat gunung tapi itu semua selalu dilarang dan akhirnya diam-diam aku melakukan kegiatan itu. Aku sudah tak bisa mengikuti kegiatan pencinta alam ketika aku dan para anggota pecinta alam ketahuan camping diam-diam tanpa seizin sekolah dan akibat hal itu MAPALA disekolahan aku telah di vacumkan selama tiga tahun. Aku juga diam-diam mengikuti olahraga parkour, aku bilang pada papa bahwasannya aku pergi les, namun aku malah ke UNILA untuk latihan disana. Setelah dua bulan aku mencoba untuk jujur pada papa akan tetapi, apa yang aku pikirkan benar terjadi. Untuk kesekian kalinya papa tidak mengizinkanku untuk ikut olahraga parkour. Aku ingin papa bisa tahu apa yang ingin aku lakukan, aku ingin menjadi Bintang yang apa adanya. Yang bebas berkreasi, namun kini hanya bidang menulis yang aku geluti karena, bidang ini tak dilarang oleh papa. Dan melalui tulisanlah aku bisa bicara pada dunia tentang apa yang aku rasakan.
***
            Dari jarak beberapa meter saja sudah tercium bau yang sangat aku benci yaitu bau obat-obatan, untuk kesekian kalinya aku mengunjungi rumah sakit ini dan mungkin dokter yang menanganiku tak mungkin bosan melihatku karena aku selalu membawa rezeki untuknya, itulah pikiran pendek yang sempat ada dalam benakku. Setelah kondisi tubuhku selasai di cek, ternyata darah ku rendah yaitu 100/90 selain itu aku mempunyai vertigo dan kemungkinan besar aku bisa mengalami penyempitan pembuluh darah jika aku terlalu letih atau pun terlalu banyak pikiran. Serta, jika aku tidak bisa mengontrol pikiran dan menjaga tubuhku kemungkinan besar pada usia muda ini aku akan mengalami kelumpuhan. Apalagi aku punya gen kanker, dan sangat bisa terjadi gen itu makin berkembang seiring lemahnya tubuh ini. Mendengar penjelasan dokter itu, aku sempat sejenak terdiam dan tersentak kaget.
“Ya Allah, kenapa secara bertubi-tubi Kau berikan ini semua? Belum selesai aku melupakan rasa sakit hatiku karena Ronal, kau datangkan Kiki padaku, belum hilang kesalku terhadapnya, Kau hadirkan Ardian dalam mimpiku, belum jelas mengapa Kau hadirkan Ardian dalam hidupku, Kau beri aku hal yang seperti ini. Ya Rabb, bukan aku tak mau bersyukur padaMu dan bukan aku terus mengeluh padaMu, hanya saja aku letih dengan semua ini. Bantu aku ya Allah, beri aku kekuatan dan kirimkan malaikat Mu yang akan membuatku bahagia.” Itulah pintaku ketika aku kembali mengingat apa yang dikatakan dokter pada aku dan papaku.
            Sesampainya aku dirumah aku langsung mengambil handphoneku yang tertinggal dikamar, saat aku buka ternyata ada sms dari nomor yang tak ku kenal.
“Udah sembuh Bin?? Ardian.” Kata-kata yang tertulis di sms itu, membuatku tersenyum dan entah mengapa aku merasakan sebuah kebahagian dan kehangatan ketika aku membaca sms darinya. Kami pun saling mengirim sms satu sama lain.
“Ehm.. Yaudah semoga cepat sembuh ya Bin, tidurnya jangan malam-malam lagi.” Ketika ia menuliskan kata-kata ini dalam smsnya, entah mengapa aku tiba-tiba tersenyum dengan riangnya.
***
            Adzan isya pun telah berkumandang dihamparan gelombang udara, dan mendarat tepat pada orang-orang yang rindu terhadap Tuhannya. Selesai menjalankan shalat isya aku pun berganti pakaian untuk segera pergi berobat tradisional bersama papa, umi, dan ke dua adikku. Selama diperjalanan aku ditemani pula oleh Ardian, karena aku dan dia masih saling mengirim sms satu sama lain.
“Kayaknya seru nih yang lagi diluar… oh iya Bin, lu tenang ajah, pada saatnya nanti lu bakalan ngerasain bahagia, mungkin belum saat ini, tapi kebahagiaan itu bakalan datang. Allah itu sayang dan cinta sama lu. Karna lu itu orang yang taat.. gue yakin semua ini bakalan berlalu.. Udah sampai lum?” kata-katanya membuatku makin menganggumi temanku yang satu ini. Saat aku masih menulis sms aku melihat ada sebuah mobil fortuner yang bertabrakan dengan sebuah truk, mobil fortuner itu rusak parah dan truknya terguling hingga merubuhi salah satu rumah warga yang ada dipinggir jalan. Saat itu pula aku menceritakan kejadian itu kepada Ardian.
“Lu berobat didaerah mana? Kemiling bukan?tadi gue juga ngeliyat mobil fuso itu terguling. Tapi, gue nggak tau tabrakan atau apa.” Jawaban Ardian ini membuatku bertanya-tanya mengenai keberadaan rumahnya.
“gue berobat didaerah susunan baru. Tadi itu tabrakan, iih ngeri banget ngeliat mobil fortuner yang rusak parah itu. Lu belum tidur?” balasku.
“Dimananya? Rumah gue juga didaerah susunan baru. Tempat siapa Bin? Oohh.. gue kira tadi itu mobil yang nggak bisa nanjak, gue belum tidur kog.” Jawabnya. Karena hal ini aku makin penasaran saja dibuatnya.
“Dideket pesantren An Nahl, gue mau berobat tradisional.” Tidak lama kemudian handphoneku kembali bergetar.
“Nah, rumah gue dideket tuh pesantren.. 2 gang dari pesantren, lu masih disusunan baru? Nama bapaknya siapa?” balasnya, yang memburuku dengan berbagai pertanyaan, mungkin ia juga penasaran sama seperti aku.
“Iya, gue masih disini. Namanya pak Misron.”
“Oo pak Misron.. kenal lah gue, masih disitu? Kapan mau pulang? Rumah gue itu depan rumah pak Misron yang menghadap ke gang sebelah sana.” Membaca sms darinya membuat mataku terbelalak. Aku pun menyuruhnya untuk kesini, akan tetapi saat ia baru mengeluarkan motor, aku dan keluargaku sudah waktunya untuk pulang, akhirnya aku pun membatalkannya. Jujur aku sangat kecewa padahal entah mengapa aku mengharapkan kedatangannya malam ini.
***
            Siang telah berlalu, matahari pun telah kembali keperaduannya, dan malam kini telah menunggu. Seperti biasa malam ini aku juga harus pergi untuk berobat tradisional ke rumah pak Misron. Sesampainya disana aku tak tenang, aku jadi ingin bertemu dengan Ardian.
“Ardian itu siapa kamu nak?” tanya pak Misron yang telah membuyarkan lamunanku.
“Oh, dia teman les aku pak. Anaknya baik, pintar lagi.” Jawabku. Namun, reaksi pak Misron setelah mendengar kata-kataku ia malah tersenyum, dan hal itu membuatku penasaran.
“Keluarga dia itu masih sedulur sama bapak, kakaknya yang kuliah di mesir itu kan?” aku pun hanya tersenyum mendengar jawaban pak Misron.
“Iya pak, dan Ardiannya sekarang malah keterima di IPB.” Dan kulihat pak Misron terdiam sejenak.
“Kamu sudah tahu rumahnya? Rumahnya dekat kok, di gang sebelah depan rumah bapak ini. Kalau kamu mau main kesana, mainlah.” Seketika itu dahiku mengerut dan aku langsung tertunduk senyum mendengar perkataannya pak Misron.
“Nggak mungkinlah pak, wong aku ini cewek, masa malem-malem kerumah cowok.” Jawabku dengan logat wong jowo. Saat aku masih berbincang-bincang dengan pak Misron, tiba-tiba adikku merengek padaku untuk  beli makanan. Akhirnya aku pun menemani mereka untuk membeli makanan, aku pun berinisiatif untuk membeli roti bakar yang ada didepan gang rumahnya Ardian. Dan aku pun menyuruh Ardian untuk menghampiriku, cukup lama aku menunggunya. Namun, tidak lama kemudian ia keluar dari rumah bercat hijau dan menghampiriku, ternyata ia juga mau membeli roti bakar pula. Saat itu ia ditemani oleh adik perempuannya. Ketika aku dan Ardian sedang becakap-cakap, tiba-tiba mobil papa melintas dan aku pun tak melihatnya.
“Bintang, itu mobil kamu bukan?” tanya Ardian sambil menunjuk mobil yang baru saja melintas. Aku pun sempat panik, karena papa kadang suka ngerjain aku. Dan saat itu aku langsung menelpon papa, akan tetapi tidak diangkat, dan saat ku telpon lagi handphoneku malah lowbet. Akhirnya Ardian menawarkan aku untuk menelpon papa dengan handphonenya. Namun, aku menolaknya dan saat itu aku langsung berpamitan dengannya dan berlari menuju rumah pak Misron. Sesampainya disana, umi dan pak Misron malah tertawa melihat aku, yang berfikir papa dan umi meninggalkan aku.
“Kenapa kamu lari kayak gitu? Kamu pikir papa ninggalin kamu?” tanya umi dengan sedikit gelak tawanya. Aku pun masih terdiam dan mencoba mengatur ritme nafasku.
“Kalau pun kamu ditinggalin sama papa kan kamu bisa nginep tempat bapak, atau bapak minta tolong sama Ardian buat nganterin kamu.” Ujar pak Misron yang sedikit meledekku. Baru saja pak Misron meledekku mengenai Ardian, eh malah Ardian nelpon aku. Aku pun sedikit malu dengan pak Misron, akhirnya aku angkat telpon dari Ardian.
“Assalamualaikum..” salamku. Ruangan ini pun menjadi sunyi.
“Waalaikumsalam, gimana ada nggak orang tua kamu?” tanya Ardian yang mungkin mengkhawatirkanku.
“Disini ada umi kok, ternyata papa nganterin istrinya pak Misron yang mau berobat ke bidan.” Jelasku, aku pun merasa senang saat dia menelponku.
***
            Ditempat les, aku duduk disebelah Ardian. Dan ketika disela-sela pelajaran Ardian menyuruhku untuk membaca sms dari Facebook Massage yang tertulis “ Sisca Clara Sari memulis status Love You, Dani Nusantara” ketika aku membaca kata-kata itu aku sedikit tersentak. Karena yang aku tahu Sisca itu adalah mantannya Ardian, dan kata Bulan si Sisca mutusin Ardian karena Ardian nggak mau megang tangannya. Saat aku tahu hal itu aku makin mengagumi sosok pria yang satu ini. Coba deh pikir ditahun 2010 ini susah banget nyari cowok yang bener-bener menghargai wanita. Setelah aku membaca sms itu aku pun berkata pada Ardian.
“Sabar iya, coba deh lu mencintai seseorang karena kecintaannya terhadap Tuhannya, pasti lu bakalan dapetin cewek yang bener-bener baik buat lu. Dan jangan lupa buat shalat istikharah.” Saat itu aku menatap matanya. Seketika itu aku merasa ada satu goresan luka di hatiku, rasanya ingin menangis. Karena aku pikir dia pasti masih mencintai Sisca. Mengapa rasa ini tiba-tiba muncul? Ada sesak yang memenuhi dada ini. Dan yang membuatku bingung kenapa Ardian memberikan sms itu padaku, sedangkan aku sendiri tidak tahu tentang siapa Sisca. Aku hanya mengetahui sedikit lewat kabar angin. Kenapa harus aku? Oh Tuhan apalagi rencanaMu. Dua jam pelajaran telah berlalu kini waktunya kami istirahat dan saat istirahat Bulan senyum-senyum padaku. Aku pun merasa bingung kenapa sih nih anak.
“Cie…cie…” Bulan dan Ajeng meledekku tanpa ku tahu apa sebabnya.
“Kenapa sih Bunga, Mami?” tanyaku yang penasaran.
“Pantesan ajah udah lama aku mikir, kalau kamu dan Ardian itu ada yang beda. Ternyata benar feeling ku.” Mami tertawa melihat wajahku yang gugup.
“Bener banget tuh Bunga, Hhayo.. kamu suka iya sama Ardian?” pertanyaan mami ini seakan membuatku tersambar petir.
“Nggak lah mami, aku itu tadi cuma ngasih saran ajah kok, kan aku temannya.” Aku berharap apa yang mereka katakan itu tak benar.
“Hhallah, bilang suka ajah kog susah. Kamu itu selalu cerita tentang Ardian, bahkan kamu pernah mimpiin dia kan? Saya restui kok.. Hhahaha..” wajahku saat itu mungkin bagaikan tomat busuk yang memerah.
“Kalau pun aku suka sama dia, kan belum tentu Ardian juga suka sama aku, iya nggak mi?” dalihku.
“Nggak tuh, mami pikir Ardian juga punya rasa yang sama dengan kamu. Buktinya waktu kamu nggak ada dia pasti nanya, Bintang kemana? Dan dia itu lebih dekat ke kamu, sedangkan sama kami ajah nggak padahal kami kan udah satu tahun sekelas. Pokoknya bedalah perhatiannya ke kamu.” hhuft… tak ada yang bisa membela jawabanku kalau kayak gini caranya, pikirku. Dan alhasil selama dijalan aku terus-terusan diledeki, namun bukan hanya untuk hari ini saja aku diledeki akan tetapi setiap hari, termasuk jika ada Ardian sekali pun.
            Sama halnya dengan hari ini, ketika mempelajari golongan darah. Menurut pak Doni golongan darahnya Adam dan Hawa itu “A dan B” , ketika ditanya mengenai golongan darah hanya aku yang golongan darahnya A dikelas, sedangkan Ajeng dan Ardian B, si Bulan dan Mardi O. Karena aku A sendiri makanya aku membela diri.
“Yah nggak ada pasangannya.” Ledek Bulan.
“Hhuft.. kalau nggak ada golongan darah A pasti nggak ada kalian. Kan Adam dan Hawa golongan darahnya A dan B.”ujarku yang meyakinkan diri.
“Berarti kamu cocok dong sama Ardian, kan Ardian B kamu A.” jawab Bulan dengan lantangnya. Saat itu wajahku memerah, dan ketika aku melihat Ardian, dia hanya tersenyum garing. Jadi merasa nggak enak nih sama Ardian. Tidak sampai disitu saja, ketika pelajaran kimia berlangsung, bu Laeda bercerita sedikit mengenai angka  kehidupan, hal ini terjadi karena aku dan Bulan selalu rebutan absen nomor sembilan. Menerut bu Laeda angka kehidupan itu seperti gambaran akan kehidupan kita cara menghitungnya yaitu jumlah tanggal lahir + jumlah bulan + jumlah tahun lahir. Misalnya, angka kehidupanku 9+9+1+9+9+2 = 39 = 3+9 = 12 = 1+2 = 3, jadi menurut bu Laeda angka kehidupan aku adalah tiga.
“Kalau tidak salah, orang yang angka kehidupannya tiga itu setia banget dan berjiwa sosial.” Ujar bu Laeda
Seketika itu Bulan sangat senang karena setelah dihitung ternyata angka kehidupannya adalah sembilan sama seperti angka kehidupannya Ardian. Hhuft.. sempet BT sich tapi yah mau diapain lagi. Tidak terasa waktu begitu cepat berjalan akhirnya saat istirahat pun telah datang. Ketika kami semua keluar kelas ternyata diluar sedang hujan deras dan kami pun tidak bisa untuk makan, sedangkan perut sudah miscall-miscall dari tadi. Alhasil aku berinisiatif untuk meminjam payung guru, lalu aku pun mengajak bunga. Saat itu bunga masih berdiskusi dengan Ardian dan Mardi mengenai apa yang mau dibeli. Karena mereka lama dan aku saat itu masih BT akhirnya aku pun berjalan terlebih dahulu, dan ketika itu aku mendengar Bulan memanggilku. Jadi aku pikir Bulan mengejarku, dan saat aku pikir Bulan ada dibelakangku, aku langsung berhenti mendadak, dan ia pun menabrakku. Namun ketika aku membalikan badan, aku salah orang. Ternyata yang mengejarku bukan Bulan tapi Ardian dan Mardi. Dan yang menabrakku adalah Ardian, alhasil aku jadi salah tingkah deh. Dan untuk menyembunyikan rasa itu aku memutar-mutar payungku sehingga airnya mengenai mereka. Saat itu aku sungguh senang, karena tingkah ku membuat ku seperti anak-anak yang seolah tak punya beban. Sesampainya diwarung batagor, aku melihat dua temanku yang kebingungan, karena mereka tidak bisa kembali ke tempat les, karena aku nggak tega melihat temanku itu jadinya aku meminjamkan payungku pada mereka.
“Nih Res, payungnya kamu pake ajah, toh aku juga sendirian kaliankan berdua.” Sambil tanganku menyerahkan payung untuknya.
“Tapi, kamunya gimana?” ia pun menatapku,
“Udah santai ajah, kan ada teman aku.” Ujarku sambil menunjuk Ardian dan Mardi.
“Thanks, ya Bintang.” Mereka pun berlalu dengan payung yang tadi ku pinjamkan untuk mereka.
Sementara Ardian dan Mardi beli batagor, akhirnya aku menyebrang jalan untuk ke indomaret membeli es krim, karena aku tak menggunakan payung, alhasil pakaianku basah semua. Dan ketika aku keluar dari indomaret, aku pun langsung bergegas untuk menyebrang kembali. Akan tetapi, aku kalah langkah dengan Ardian, sebab ia telah menyebrang terlebih dahulu dan memayungiku, dan kembali kewarung batagor. Ternyata diwarung itu aku bertemu dengan temannya Ronal. Sementara Ardian mengantarkan Mardi kembali ke tempat les, aku pun menyempatkan waktu untuk mengobrol-ngobrol dengannya.
“Hhayo Bintang.. Sapa tuh cowok tadi? Penggantinya Ronal iya?” Tanya kak Wahyu itu sontak membuatku kaget.
“Mhmm.. itu teman les Bintang. Kok kakak bisa mikir dia penggantinya Ronal?”  tanyaku kembali.
“Kalau dari cara kalian, aku pikir kamu pacaran sama dia.” Jawabannya membuatku bingung, aku juga nggak tau apa maksudnya dengan “cara kalian” padahal menurut aku, aku dan Ardian biasa saja. Tidak lama kemudian Ardian pun datang menjemputku.
“Kak, aku duluan iya.” Ia pun tersenyum padaku dan kami pun segera meninggalkannya.
“Siapa Bin?” tanya Ardian.
“Yang tadi? Oh itu teman aku sewaktu latihan parkour.” Kami pun terus berjalan, jujur saja pada saat bahuku dan bahunya bersentuhan aku merasakan jantungku berdetak berkali-kali lipat dari biasanya. Berada disampingnya membuatku nyaman dan hangat, bahkan dingin karena air hujan yang membasahi tubuhku pun tak terasa ketika aku berada disampingnya. Air hujan pun terus mengalir bersama kebahagiaan ku hari ini. Ingin rasanya saat itu aku menjerit “Ya Allah, Aku Jatuh Cinta..”
***
            Setelah kejadian itu aku yakin bahwasannya aku mencintainya karena kecintaannya terhadap Tuhannya. Akan tetapi aku tak bisa untuk mengungkapkan padanya, karena aku tak akan punya waktu untuk bilang bahwa aku menyayanginya. Dan juga tanggal 26 bulan ini dia akan berangkat ke bogor untuk meneruskan studinya, jadi dia nggak mungkin buat mikirin masalah aku ini, karena dia sedang disibukan dengan masa depannya. Aku pun berniat untuk memendam rasa ini, dan berharap pada takdir. Karena jika kami berjodoh, aku yakin aku akan dipertemukan kembali dengannya. Dan juga seusai lebaran ditahun ini kami ingin mengadakan ulang tahun bersama dan reunian. Aku harap saat itu kontrakku selama di dunia masih ada, karena aku takut akan kesehatanku yang kedepannya belum jelas. Aku pun memutuskan untuk membuat 69 buah bintang-bintang kecil sebagai kenang-kenangan untuknya, lalu aku pun mencari botol kaca untuk menaruh bintang-bintang itu, dan akhirnya setelah aku mencari dari Mall Kartini, dan Simpur, botol ini pun aku temukan di Gramedia. Selagi berada di Gramedia aku berfikir untuk sekalian membeli buku, dan saat aku sedang mencari buku, aku melihat buku yang berjudul “Rahasia dibalik tanggal lahir” sejenak aku membacanya, ternyata buku itu menjelaskan tentang angka kehidupan, dan yang membuatku kaget saat aku membaca bagian akhirnya, yaitu pasangan ideal angka kehidupan 3 adalah angka 1 dan 9. aku sempat berfikir sejenak, bukannya angka kehidupan Ardian 9?. Selain memberi 69 bintang-bintang, aku pun menulis sebuah surat diatas selembar tissue untuknya, akan tetapi surat ini tidak jadi aku berikan padanya. Karena jujur aku merasa malu, bahwasannya aku adalah wanita berjilbab, bagaimana pandangan agama jika seorang wanita berjilbab menyampaikan perasaannya. Lebih baik untukku menahan rasa ini, karena aku tak ingin ia memandang aku sebagai wanita murahan ketika aku menyampaikan apa yang ku rasakan.

                                               
                                                             Di balik kesunyian, 1 Rajab 1431 H

Assalamualaikum wr wb.
To         : Ardian Firmansah
              [pemuda yang mencintai Tuhannya]

            Maaf  jika aku telah lancang menyita waktumu. Ada hal yang harus aku katakan, yang jika tidak ku katakan mungkin aku akan menyesal. Jujur sungguh berat bagiku untuk melakukan ini. Namun aku berfikir jika tidak ku ungkapkan sekarang dan tetap berusaha menunggu hari esok akan tiba, aku takut hari itu tak akan pernah datang.
            Terkadang aku berfikir, apakah Tuhan yang telah membolak-balikan hati ini? Aku tak mengerti akan semua ini, ketika hati ini telah dihancurkan, aku kembali bersua kepada Sang Khaliq. Aku memohon, “jika dia bukan imam untuk hidupku kini, maka lenyapkankah bayangannya yang menari dalam imajinasiku. Dan tunjukanlah seseorang yang bisa membuatku semakin mencintai Engkau dan RasulMu.” Setelah pertemuan kita untuk yang kedua kalinya, disaat kita belum mengenal satu sama lain, ketika itu aku memimpikanmu dan anehnya kau tidak hanya sekali hadir dimimpiku, dan membuatku semakin bertanya-tanya, dan banyak hal yang membuatmu seakan ada dalam hidupku.
            Aku takut cintaku pada Allah berkurang karena kehadiranmu. Aku takut dalam ibadahku yang kulihat dirimu. Aku takut jauh dari Allah karena perasaan ku ini. Jika anugerah itu harus kumiliki, maka semoga kehadiranmu adalah pembawa cahaya bagiku, dan bisa membuatku semakin mencintai Allah SWT dan RasulNya. Semoga Allah meridhoi tali silahturahmi ini.

Waalaikumsalam wr wb
[aku ingin mencintai seseorang karena kecintaannya terhadap Tuhannya]
            Jika surat ini tak bisa ku sampaikan padanya, aku berharap biarlah waktu yang mengatakan bahwa aku mencintainya. Dan mungkin aku benar bahwa, hanya lewat tulisanlah aku bisa berbicara pada dunia. Dan kini lewat tulisan aku hanya ingin berkata “Ya Allah, aku jatuh cinta.. “ meskipun rasa ini tak bisa ku sampaikan padanya namun, aku berharap ia bisa merasakan pula akan rasa yang begitu indah ini. Dan jika aku terpisah dalam jarak dengannya, aku akan memutuskan untuk menunggu seseorang yang aku cintai, dari pada mencintai seseorang yang tersedia untuk ku kini. Aku berharap padaMu ya Allah, semoga Engkau meridhoi perasaanku ini.  Amien.. 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar