
Nhtabindtanq, 18 Juni 2010
“Ya Allah jika Ronal bukanlah yang terbaik untukku,
hilangkan rasa yang begitu menyakitkan ini, hapuskanlah semua bayangannya yang
menari-nari dalam imajinasiku, dan tunjukanlah adam
yang dapat menjadi imamku kini atau pun selamanya, yang akan membuatku semakin
mencintaiMu dan RasulMu.” Itulah seuntai doa yang kurajut dalam malam yang tak
berbintang ini. Terlalu menyakitkan untukku mencintai seseorang yang selalu membuatku
menangis. Menangis karena aku berfikir aku tak pantas untuknya, karena aku tak
bisa membahagiakannya, dan pada akhirnya kini hanyalah tangis akan luka yang tertoreh
dihatiku mulai terurai. Karena luka ini, ku buat tanganku meneteskan darah,
sungguh mungkin aku bodoh. Tapi, aku terlanjur sakit dan terlanjur mencintainya
begitu dalam. Apakah ini yang namanya cinta? Ataukah hanya nafsu belaka? Nafsu,
untuk memiliki dia seutuhnya. Kini yang aku lakukan hanyalah menyiksa tubuhku
sendiri, dengan bodohnya aku menulis inisial namanya dilenganku dengan pisau,
aku pun tak mau makan dan tiap aku sendiri, aku selalu menangis. Aku hampir
gila dibuatnya, aku ingin diriku yang dulu kembali. Sosok ceria dan hangat
selalu melekat didiriku. Namun, kini hanya kelemahan yang setia hinggap didalam
diriku.
***
Pukul
sembilan pagi aku sudah dihadapkan dengan buku bantal, wajar saja jika buku ini
disebut buku bantal, karna memang buku ini seperti bantal yang berisi
setumpukan soal-soal untuk SNMPTN 2010.
“Oh Tuhan, kapan aku bisa lepas dari semua
buku-buku ini. Hhuft..” ujar dalam hatiku.
“Bintang…” teriakan Bulan dari depan gerbang, dan
dengan senyum sumringahnya, ia pun berlari menujuku.
Kebahagiaan kami ketika saling bertemu, membuat
orang lain berfikir seolah kami sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Padahal
setiap hari kami saling bertemu. Dan
itulah yang membuat kami selalu membawa keramaian dimana pun kami berada.
“Dari mana kamu Bulan? Kok jam segini baru muncul?
Bukannya kamu penghuni tempat les ini?” aku pun seolah memburunya dengan
pertanyaan-pertanyaan.
“Sabar dulu dong Bu, aku ini nggak bisa pergi
pagi-pagi. Karena aku harus masak dulu, biasalah aku kan nggak kayak kamu, yang cuma bisa masak
air doang, iyakan?” ucapnya lantang,
“Hhuft.. kamu itu buka aib orang ajah..! dan kami
pun saling tertawa.
Tidak lama kemudian bel berbunyi, aku pun kembali
masuk kedalam ruanganku, karena hal itu menandakan pelajaran selanjutnya akan
dimulai.
***
Dua
jam pun telah berlalu, dan kini waktunya aku beristirahat dirumah. Seperti
biasa, sebulum aku pulang dari tempat les. Aku selalu mencari keberadaan Bulan,
untuk berpamitan dengannya. Kaki ini pun langsung membawaku ke meja bundar yang
ada didepan tempat lesku, karena itu adalah tempat favorit aku dan Bulan. Dan akhirnya aku pun bertemu dengan dia.
“Kenapa sih Bu? Kok itu muka ditekuk mulu nanti
bawelnya hilang loh.” Ledekku untuk mencairkan suasana.
“Kelas aku makin hari makin sepi ajah, penghuninya udah
pada nggak jelas lagi.”jawabnya dengan BT.
Sejenak kami pun saling terdiam, aku juga nggak mau
pulang gitu ajah ketika dia BT kayak gini.
“Mhmm.. gimana kalau kamu gabung ajah ke kelasku?”
tawarnya, yang membuatku sempat kaget.
“Memangnya boleh gitu masuk kelas lain? Aku juga
nggak enak sama teman-teman kamu.” Ujarku, yang seolah ingin menghindar dari
permintaannya.
“Please. Ayo
dong! Temen-temen aku yang lain asik kok, jadi tenang ajah, kan ada aku yang kamu kenal. Ok, mau iyah?”
mohonnya padaku, dan membuatku tak bisa untuk mengelakan permintaannya.
“Ok deh.” Jawabku dengan sedikit cemberut. Namun,
aku pun berfikir mungkin tawaran ini bagus buat aku yang sedang mengejar
beberapa mata pelajaran buat SNMPTN tahun ini.
Bel
pun kembali berbunyi, lima
belas menit pun telah berlalu. Namun, kelas Bunga baru terisi empat orang. Yaitu Aku,
Bulan, Mardi dan Ardian. Pertama kali aku masuk kelas ini, aku tak sedikit pun
berbicara karena aku takut mereka menganggapku sok kenal sok dekat, lagi. Namun ketika Farid datang, kelas yang
tadinya sunyi kini telah berubah menjadi sebuah pasar malam, dimana kata-kata
kongekan mulai mengudara ditelinga kami yang mendengarnya. Saat itulah aku
seolah menjadi bagian dari mereka, karena pada saat itu aku pun mulai berani
untuk membuka suara dan membalas kongekan yang tertuju padaku. Tidak lama
setelah kedatangan Farid, Batur dan Ajeng pun masuk kelas. Ketika semuanya sudah
berada dikelas, aku baru bisa memastikan bagaimana karakter mereka
masing-masing. Yang pertama ada dalam pikiranku adalah sosok Farid, dia memang
cowok tulen. Namun, sikap dan gaya
bicaranya membuatku tanda tanya akan
kepastian dirinya. Gimana aku tidak tanda tanya,
cowok yang satu ini senang sekali berbicara dan mengongek, yang sering menjadi bahan
kongekannya adalah Ardian. Ardian acap kali dipanggil “badak” oleh Farid,
mungkin pangilan itu ada karena fisiknya yang mungkin sedikit subur. Namun
bagiku tubuh Ardian itu cukup standar karena ia tidak terlalu gemuk dan ia pun
termasuk cowok yang tinggi bagiku, secara sifat mungkin Ardian kebalikannya
dari sifat Farid, karena Ardian termasuk cowok yang nggak banyak omong. Kini
pikiranku jatuh pada cowok yang duduk dibelakang Farid, namanya Batur. Cowok
yang satu ini memiliki tubuh yang standar dengan penampilan yang casual, secara
sifat ia sama dengan Ardian. Namun, menurutku ia jarang untuk gabung dalam
pembicaraan kami. Satu cowok lagi
namanya Mardi, dia selalu duduk dibelakang. Padahal aku paling males kalau udah
dibelakang soalnya banyak makhluk nggak jelas yang kadang mengganggu
pandanganku. Menurutku
Mardi itu agak lemot, tapi dia
suka mengundang tawa karena tingkah bodohnya, yah cukup mengasikkan bila jadi
bahan kongekannya si Farid. Dan yang
terakhir adalah Ajeng, wanita ini berada dibelakangku, ketika aku melihat
wajahnya aku langsung bisa pastikan bahwa cewek yang satu ini pendiam dan tidak
banyak omong, tapi jangan salah cewek ini juga asik diajak tukar pendapat atau
sekedar mencairkan suasana.
***
“Whuahh, astagfirullah…” sontak, aku pun terbangun
dari tidur lelapku.
“Ya Allah, kok mimpinya aneh sih? Nggak nyambung,
kenapa aku memimpikan si Ardian? Apa hubungannya denganku?” aku pun
bertanya-tanya, wajar saja jika aku bingung karena aku baru dua hari mengenal
sosok Ardian tapi, mengapa dia muncul dalam mimpiku?
Detik,
menit, jam, dan hari pun telah berlalu. Tidak terasa aku telah menjadi bagian
dari kelas “exe 108” ini. Kami pun saling membaur, tidak hanya dikelas saja aku
mengakrabkan diriku dengan mereka namun, di facebook dan di sms. Seperti yang
terjadi malam ini, kebiasaanku setiap malam adalah tidur diatap untuk melihat
langit dan bintang-bintang, karena dengan seperti itu aku merasa sangat dekat
dengan mama yang telah berada disisi-Nya. Dan
apabila angin malam menerpa tubuhku, aku selalu merasakan hangatnya dekapan
mama memeluk erat tubuhku. Namun, kini aku merasa ada kejanggalan dengan
suasana langit malam ini, kejanggalan yang membuatku bertanya-tanya dan membuat
mataku seolah tak ingin berpaling dari keindahan suasana langit malam ini. Hal
yang menurutku aneh adalah malam ini bulan dilingkari cahaya putih
disekelilingnya, dan tak ada satu pun bintang yang menampakan cahayanya padaku.
Akhirnya aku memutuskan untuk send all sms ke semua teman-teman ku.
“all.. guys coba deh keluar dan lihatlah langit
malam ini. Disekeliling bulan melingkar cahaya putih.” Inilah isi sms yang aku
kirim ke semua teman-temanku, termasuk teman les ku. Tidak lama kemudian
beberapa temanku menanggapi fenomena yang menurutku aneh ini.
“Eh, iya Bintang. Ada cahaya putih yang melingkari bulan. Tapi,
kata mama itu biasa.” Tanggap
Bulan. Dan
tidak lama kemudian Ardian pun membalas smsku.
“Eh iya.. Emang lingkaran apaan? Ini siapa iya?”
wajar dia bertanya ini siapa karena dia belum tahu nomorku, dan ketika itu aku
pun lupa untuk miscall dia setelah ia memberi nomor handphonenya padaku.
Akhirnya pikiran jail pun mulai menyala dalam benakku. Jadinya sekalian ajah
aku mengerjainya.
“tebak dong siapa aku? Kluenya nama aku tertulis
dalam buku les kamu.” Balasku, yang aku yakin pasti akan membuat dirinya
penasaran. Nama facebookku memang tertulis didalam bukunya karena saat itu aku
menyuruhnya untuk ngeadd aku.
“Buku?? Buku mana? Gak ada ah??” jawabnya yang
seolah pasti.
“Buku koding les kamu. Mhmm, nama aku juga
berhubungan dengan langit malam. J” ujarku yang
mungkin membuat dirinya makin penasaran dengan siapa aku yang sebenarnya.
“Bul-bul iya? Gak ada orang yang pinjem buku koding
gue. Aneh-aneh ajah, mana ada orang yang nulis dibuku koding gue kecuali gue
sendiri.” jawabnya yang begitu meyakinkan bahwa dia benar.
“Bukan! Yakin nama aku nggak ada dibuku koding
kamu? Coba deh cari dulu. Aku
Bintang. Hahaha..” ujarku dengan
senang karena telah membuat dia bertanya-tanya tentang siapa aku.
“Oiya.. Bintang,
hahaha.. kemaren lu yang nulis dibuku koding gue. Hhehehe.. Eh kenapa
tuh bulan ada lingkarannya? Gerhana iya?”dia pun membenarkan tentang apa yang
aku ucapkan tadi, dan ia pun mulai memburuku dengan pertanyaan mengenai
lingkaran putih yang melingkari bulan.
***
Kehilangan
Ronal, membuatku mencoba membencinya dengan berbagai cara,
salah satu cara yang aku gunakan untuk
melupakannya adalah mencari sosok penggantinya. Ketika aku sedang mencari sosok
yang bisa membantuku melupakannya, tiba-tiba Kiki muncul dalam hidupku, dia
temannya Ronal dalam sebuah klub olahraga yang pernah aku geluti pula. Namun,
mereka bukanlah teman dekat dan hanya sekedar kenal, sapa dan senyum. Dan ketika Kiki menyatakan cintanya padaku,
kesempatan ini tidak aku sia-siakan karena aku pikir aku butuh seseorang yang
membantuku untuk memulihkan hatiku dan menghilangkan ingatanku akan sosok
Ronal. Akhirnya aku dan Kiki pun menjalin hubungan, aku pula telah memberi
tahunya bahwa untuk saat ini aku masih menyayangi Ronal, dan aku berharap dia
bisa membantuku untuk melupakannya. Ia pun memaklumi dengan apa yang terjadi
pada diriku saat ini. Akhirnya untuk menghilangkan bebanku, ia mengajakku ke
pantai. Ia tahu bahwasannya aku sangat menyukai keindahan alam. Kesempatan ini
pun tidak aku sia-siakan, karena aku memang butuh refresing.
“Bip..bip..bip..” suara handphoneku pun berdering,
aku yakin pasti ini Kiki.
“Halo.. Assalamualaikum.” Sapaku.
“Waalaikumsalam wr wb..” dengan lengkapnya ia
membalas salamku.
“Kenapa
Ka? Hari ini jadikan?” tanyaku,
namun sebenarnya dihati kecilku aku tak ingin jalan dengannya, entah mengapa
hati ini tak tenang.
“Jadilah dek. Tapi, kakak nyusul kamu dimana?” dengan semangat ia menjawab tanyaku.
Sejenak aku pun terdiam, mungkin karena hati
kecilku menolak untuk jalan dengannya makanya aku sedikit bingung seperti ini,
akhirnya aku pun bertanya pada Bulan.
“Bulan.. gimana nih, dia mau ngajak aku pergi. Tapi
jujur aku males banget, disisi lain aku nggak enak buat nolak ajakannya.”
Ujarku dengan wajah manyun.
“Udah suruh dia kesini ajah.” Jawab Bulan
dengan entengnya.
Karena aku sedang bingung, aku pun lupa bahwasannya
ada seseorang yang menunggu jawabanku ditelepon.
“Dek? Gimana?” ucapnya yang kini telah membuatku
tersadar kembali.
“Mhmm.. gimana kalau kakak susul aku ditempat les?”
usulku dengan berat hati. Dan dia pun
langsung menyetujuinya.
Selama ia dalam perjalanan, aku pun berusaha untuk
mengulur waktu agar aku dan ia tidak jadi pergi. Ternyata Allah masih
menyayangiku, ketika aku bingung bagaimana caranya untuk mengulur waktu pergi
dengannya, akhirnya pada saat itu Bulan mengajakku untuk makan. Aku pun segera
bergegas menuju ketempat makan bersamanya.
“Bulan..” panggilku dengan lemasnya.
“Kenapa sih, itu muka lecek amat? Nanti jeleknya
hilang loh..hhaha..” jawabnya yang mencoba mencairkan suasana hatiku.
“Jujur, aku nggak punya perasaan apa-apa sama Kiki.
Dan aku pun telah memberi pengertian
padanya bahwasannya untuk saat ini aku masih menyayangi Ronal, eh malah ia
dengan polosnya dia bilang bakalan bantu aku melupakan Ronal. So, aku jadi
nggak enak gini. Dan sekarang ia ingin
mengajakku pergi akan tetapi, hatiku kini makin tak tenang. Aku harus gimana?”
ujarku, perasaan ini seolah menjadi beban bagiku.
“Gini loh, kalau kamu nggak suka or nggak punya perasaan apa-apa sama dia yah
kamu bilang ajah, toh mungkin itu yang terbaik. Dari pada kamu menerima dia,
tapi disatu sisi kamu nggak suka sama dia. Aku takut pada akhirnya dia membenci
kamu.” Jawab
Bulan, dengan gaya bahasa seperti orang dewasa.
Sejenak aku merenungkan apa yang telah ia katakan
padaku. Hal itu pernah terlintas dalam benakku, namun aku takut dia kecewa
padaku jika aku menolak perasaannya. Entahlah, kini aku ingin seperti air yang
mengalir dengan sendirinya. Ketika aku masih merenung tiba-tiba handphoneku
berbunyi dan memecahkan kesunyian di café ini.
“Assalamualaikum..” Sapaku.
“Waalaikumsalam.. dek kakak udah didepan tempat les
kamu, kamu dimana?” pertanyaannya sedikit membuatku bingung.
“Mhmm.. kak, maaf iya aku lagi nganterin temen aku
makan, kakak bisa nggak nunggu. Tapi, aku juga nggak maksa kakak buat nunggu
loh!” ujarku dengan perasaan yang tak enak.
“Yaudah, kakak bakalan nungguin kamu kok.” Ketika
ia menjawab seperti itu aku makin merasa tidak enak kepadanya, aku merasa bahwa
aku jahat. Tapi, ia pun sudah tau apa yang aku rasakan dan ia menerima semua
ini, jadi seharusnya perasaan bersalah tidak hinggapi benakku. Entah perasaan
apa yang ada dibenakku ini, rasa takut, bersalah, dan tidak tenang membaur dan
memenuhi lubang hatiku, hingga aku merasa sesak dibuatnya. Lima belas menit setelah Kiki menelponku pun
telah berlalu dan kini aku berada tepat dihadapannya bersama Bulan yang berada
disampingku.
“Mhmm.. kak, kenalin ini temanku.” Aku pun langsung
menarik tangan Bulan, dan akhirnya setelah ia berkenalan dengan Bulan, aku pun
pergi bersamanya membawa segenap keresahan hatiku. dan selama dalam perjalanan
menuju pantai, aku hanya diam mematung. Karena, aku merasa aneh berada
dibelakangnya.
***
Angin
berhembus dengan tenangnya, pasir yang lembut kini memenuhi sela-sela jari kakiku,
ombak yang begitu tenang terhampar disetiap pandangan mataku. Dan ketika aku melirik kepondok tempat Kiki
beristirahat, aku melihat Kiki tersenyum padaku, mungkin ia merasakan
kesenanganku yang sejenak melepas beban pikiranku karena Ronal. Duduk dalam
pondok kayu, memandang hamparan langit yang amat luas, begitu pula dengan
ketenangan ombak yang makin membuatku menikmati suasana ini. Akan tetapi, itu
hanya sejenak. Karena, Kiki telah membuyarkan lamunanku ketika ia memegang
tanganku dan memintaku untuk melepas jilbabku. Memang baru seminggu aku memakai
jilbab, aku berusaha untuk menutupi rambutku yang cukup panjang dan lurus,
karena aku berfikir ini adalah auratku dan hanya keluarga, muhrim, serta suami
dan anak-anakku kelaklah yang bisa melihatku tanpa mengenakan jilbab. Namun,
hal ini bukanlah alasanku untuk mengenakan secarcik kain yang berada diatas
kepalaku. Alasan utamaku merubah penampilan aku adalah aku seorang wanita, aku
wajib menutup auratku, aku pun bosan dengan gaya hidupku kini. Aku ingin merasakan
dekatnya keberadaan Allah SWT dengan hati dan jiwaku, karena aku merasa hanya
ketenangan batin dan jiwalah yang bisa membimbingku dalam jalan yang baik untuk
kehidupanku, aku pula berharap Allah memberikan aku seorang imam yang kelak
akan membimbingku dengan baik. Seperti yang tertera dalam QS 24 An-Nur : 26
sebagai berikut ini.
“Wanita-wanita
yang keji/jahat adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk
wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang
baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula. Orang itu
terlepas dari tuduhan yang mereka ucapkan (orang baik itu tiada bersalah),
mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia(surga).”
Seketika
itu aku langsung menarik tanganku dan menangis sejadi-jadinya. Mungkin karena
ia panik, ia pun segera menenangkan aku dan mencoba memelukku. Akan tetapi aku
malah mendorongnya dan meminta untuk pulang saat itu juga.
“Aku mau pulang sekarang!” rengekku padanya.
“Tapi, kitakan belum lama sampai disini.” Jawabnya
untuk mencegah kepulanganku.
“Kalau kamu nggak mau pulang, aku akan pulang
sendiri. Toh tanpa kamu aku juga bisa kok nyampe rumah.” Aku pun melangkahkan
kaki untuk menjauhinya. Baru beberapa langkah aku berjalan tangannya menggapai
tanganku.
“Iya, aku anterin kamu pulang. Tapi kamu nggak
marahkan padaku?” tanyanya yang panik akan kemarahanku padanya.
“Sudahlah, lepasin tangan kamu. Aku mau pulang
sekarang juga!” sentakku padanya, akhirnya ia pun mengantarkanku pulang dan
selama diperjalanan ia memohon maaf padaku. Namun, bukannya aku tak mau
memaafkan dia, akan tetapi aku masih kesal terhadapnya. Dia pikir aku ini pakai
jilbab cuma buat nutupin kepalaku saja apa? Kesalku dalam hati. Setelah aku sampai dirumah
aku pun mengucapkan terima kasih padanya dan bergegas lari menuju kamarku tanpa
ku lirik sedikit pun kepergiannya meninggalkan rumahku.
***
Kesal
dan letihnya hari ini membuatku tertidur dengan tenangnya. Kini aku pun berada
dalam alam mimpi, ditaman ini aku merasakan ketenangan dan aku pun berjalan
menuju kursi yang ada dibawah sebuah pohon yang sangat rindang. Dikursi itu ada
seorang pria yang sedang duduk usai melatih teman-temannya bermain parkour. Aku
pun tertarik dengan olahraga yang pernah aku geluti ini, oleh sebab itu aku
mempercepat langkahku dan menyapa pria yang duduk itu. Namun, betapa kagetnya
aku ketika ku sapa pria itu, ternyata Ardian teman lesku. Hal itu membuatku segera
terbangun dari mimpiku, dan untuk kesekian kalinya Ardian muncul di alam bawah
sadarku. Tidak lama setelah kesadaranku dari mimpi anehku itu, tiba-tiba
handphoneku berbunyi yang menandakan seseorang mengirim sms padaku. Ketika aku
buka sms itu, ternyata Ardian yang mengirim sms padaku, untuk mengingatkan ku
melaksanakan sholat tahajud. Hal ini sungguh membuatku tersentak.
“Ya Allah, apalagi yang Engkau lakukan. Aku sungguh
tak mengerti.” Tanyaku dalam hati. Seketika itu aku menuju kamar mandi dan membasuh
wajahku dengan air wudhu, lalu ku ambil mukena yang ada dikamar dan kembali
bersua kepada Yang Maha Kuasa dalam keheningan malam ini. Dalam doa kupanjatkan
rasa syukur ku, ku urai segala kesalahanku dalam tangisan malam ini, dan ku
pinta yang terbaik untuk hidupku kelak.
“Ya Allah, aku bersyukur atas setiap detik hembusan
nafas yang Kau berikan padaku, tanpa memintaku untuk membayar semua oksigen
yang telah aku hirup. Terima kasih atas segala kemurahan Mu yang selalu
memaafkan segala kesalahanku dan Engkau hanya meminta keimananku. Ya Allah, aku
telah letih dengan perasaan yang mempermainkan jiwaku, ku mohon petunjuk yang
terbaik buat hidupku.” Itulah pintaku untuk malam ini. Seusai ku shalat, aku
pun langsung mengambil handphoneku dan memutuskan untuk menjalin pertemanan
dengan Kiki. Aku tak mau ada hubungan khusus dengan seseorang yang tak bisa
menghargaiku sebagai sosok wanita berjilbab.
***
“Mami… nama FBnya Ardian
tahu nggak?” tanyaku pada Ajeng, aku memanggilnya dengan sebutan “mami”, dan
untuk Bulan aku memanggilnya dengen sebutan “bunga”, kalau Ardian kupanggil
“ndud”. Hhahha.. aku memang paling suka merubah nama seseorang karena, bagiku
itu adalah panggilan sayangku untuk mereka semua.
“Owh, namanya kalau nggak salah Ardian Firmansah.
Coba ajah kamu add dia.” Aku pun
langsung menulis namanya di research-nya FB. Setelah itu muncul beberapa nama
Ardian dan Ajeng pun menunjuk salah satu nama Ardian yang aku cari. Sebelum aku
mengeadd dia menjadi temanku, aku
terlebih dahulu melihat info tentangnya. Dan
betapa kagetnya aku ketika aku lihat ia lahir tanggal 06 September 1992,
tanggal dan bulan itu sama dengan tanggal dan bulan meninggalnya mamaku.
“Ya Allah, kenapa harus anak ini lagi.” Keluhku
dalam hati.
***
Rutinitasku
telah kembali, aku pun harus belajar keras agar aku bisa masuk fakultas yang
aku inginkan yaitu Hukum UNILA, aku menginginkannya karena aku bercita-cita
untuk menjadi seorang penegak HAM seperti Munir, kadang aku berfikir kelak aku
akan menjadi “Munirwati” hhahha.. moga saja ini bukan sekedar impian. Untuk
mengejar semua impianku aku berjuang dengan semua kemampuan yang aku punya. Dan sore ini waktunya aku les tambahan mempelajari
geografi. Disela-sela pembicaraan kami mengenai pelajaran, tiba-tiba mataku
terasa sakit sekali dan bagian kepala serta tungku leherku terasa berat dan
amat sakit. Akhirnya aku meminta izin untuk mengakhiri pelajaran ini dan guruku
pun mengusulkanku untuk segera pulang, karena dengan kondisiku yang seperti ini
tak memungkinkan untukku kembali belajar. Aku pun masuk kekelas untuk mengambil
tasku, saat aku masuk kekelas, sungguh aku merasa sudah tiada daya lagi pada
kakiku untuk menopang tubuh rapuhku ini.
“Assalamuaikum..” aku membuka pintu kelas dan masuk
kedalamnya. Saat aku masuk semua teman-teman yang berada dikelas berkata bahwa
wajahku pucat sekali.
“Ya ampun, wajah kamu pucat banget Bintang.” Ujar Bulan.
“Iya, wajah kamu pucat tahu.” Jawab Ardian
yang seolah membenarkan pernyataan Bulan. Saat itu aku bergegas menuju
dispenser yang berada diujung kelas dan segera mengambil minum. Namun, ketika
aku ingin meletakan gelas di meja, tanganku tiada daya dan aku merasa
pandanganku mulai gelap saat itu aku berusaha untuk tetap memandang sekelilingku,
akan tetapi usahaku sia-sia saja karena semakin aku mencoba untuk melihat,
pandanganku semakin gelap. Akhirnya aku merasakan tubuhku lemah sekali, dan aku
terjatuh, sempat sejenak aku merasakan kepalaku sakit karena membentur lantai
karpet, akan tetapi itu semua hilang bersama pingsannya aku.
“Bintang?? Bangun dong.” Ujar seseorang, dan
sepertinya aku kenal dengan suara ini karena sudah tak asing lagi suaranya
bagiku. Ketika aku bukakan mata, aku melihat teman-teman dan guru tempat lesku
berada disampingku. Meskipun awalnya aku tak mengenal wajah mereka, karena
pandanganku yang masih kabur namun, sejenak kemudian mata ini melihat jelas
siapa saja yang ada didekatku. Akhirnya pihak tempat lesku memutuskan untuk
menelpon papa dan memberitahukan tentang kondisiku saat ini. Tidak lama
kemudian papa pun menyusulku dan mengucapkan terima kasih kepada guru yang tadi
membantuku. Aku dan papa langsung berpamitan dan bergegas menuju mobil.
Sesampainya aku di mobil papa mulai mengingatkan aku mengenai penyajkit yang
ada dalam tubuhku, jujur aku BT banget saat papa mengingatkanku tentang hal
yang paling aku benci.
“Seharusnya kamu sadar bahwasannya kamu itu punya
banyak penyakit, apalagi kamu punya gen kanker tapi kamu nggak pernah bisa buat
jaga kondisi badan kamu. Dari dulu anak papa yang paling sering pingsan dan
sakit itu yah cuma kamu, coba kamu hitung sudah berapa kali kamu pingsan sejak
kamu SMP. Apa kamu lupa dengan kata-kata dokter? Dokter bilang semakin kamu
lemah dan sakit, semakin mudah gen kanker itu berkembang dalam tubuh kamu. Yang
bisa melawan penyakit itu cuma diri kamu sendiri, percuma dong kalau papa
mengusahakan berbagai kesembuhan untuk kamu jika kamunya juga kayak gini.”
Ucapan papa ini membuatku benci akan kondisiku yang lemah ini. Aku juga nggak
mau kayak gini, aku cuma berusaha untuk menjadi orang yang normal seperti orang
lain meskipun tubuh ini tak memungkinkan untuk aku melakukan itu semua. Apa
yang aku suka selalu dilarang dengan alasan tubuhku tak memungkinkan untuk
melakukannya. Aku suka basket, karate, parkour, dan manjat gunung tapi itu
semua selalu dilarang dan akhirnya diam-diam aku melakukan kegiatan itu. Aku
sudah tak bisa mengikuti kegiatan pencinta alam ketika aku dan para anggota
pecinta alam ketahuan camping diam-diam tanpa seizin sekolah dan akibat hal itu
MAPALA disekolahan aku telah di vacumkan selama tiga tahun. Aku juga diam-diam
mengikuti olahraga parkour, aku bilang pada papa bahwasannya aku pergi les,
namun aku malah ke UNILA untuk latihan disana. Setelah dua bulan aku mencoba
untuk jujur pada papa akan tetapi, apa yang aku pikirkan benar terjadi. Untuk
kesekian kalinya papa tidak mengizinkanku untuk ikut olahraga parkour. Aku
ingin papa bisa tahu apa yang ingin aku lakukan, aku ingin menjadi Bintang yang
apa adanya. Yang bebas berkreasi, namun kini hanya bidang menulis yang aku
geluti karena, bidang ini tak dilarang oleh papa. Dan
melalui tulisanlah aku bisa bicara pada dunia tentang apa yang aku rasakan.
***
Dari
jarak beberapa meter saja sudah tercium bau yang sangat aku benci yaitu bau
obat-obatan, untuk kesekian kalinya aku mengunjungi rumah sakit ini dan mungkin
dokter yang menanganiku tak mungkin bosan melihatku karena aku selalu membawa
rezeki untuknya, itulah pikiran pendek yang sempat ada dalam benakku. Setelah
kondisi tubuhku selasai di cek, ternyata darah ku rendah yaitu 100/90 selain
itu aku mempunyai vertigo dan kemungkinan besar aku bisa mengalami penyempitan
pembuluh darah jika aku terlalu letih atau pun terlalu banyak pikiran. Serta, jika
aku tidak bisa mengontrol pikiran dan menjaga tubuhku kemungkinan besar pada
usia muda ini aku akan mengalami kelumpuhan. Apalagi aku punya gen kanker, dan
sangat bisa terjadi gen itu makin berkembang seiring lemahnya tubuh ini.
Mendengar penjelasan dokter itu, aku sempat sejenak terdiam dan tersentak
kaget.
“Ya Allah, kenapa secara bertubi-tubi Kau berikan
ini semua? Belum selesai aku melupakan rasa sakit hatiku karena Ronal, kau
datangkan Kiki padaku, belum hilang kesalku terhadapnya, Kau hadirkan Ardian
dalam mimpiku, belum jelas mengapa Kau hadirkan Ardian dalam hidupku, Kau beri
aku hal yang seperti ini. Ya Rabb, bukan aku tak mau bersyukur padaMu dan bukan
aku terus mengeluh padaMu, hanya saja aku letih dengan semua ini. Bantu aku ya
Allah, beri aku kekuatan dan kirimkan malaikat Mu yang akan membuatku bahagia.”
Itulah pintaku ketika aku kembali mengingat apa yang dikatakan dokter pada aku
dan papaku.
Sesampainya
aku dirumah aku langsung mengambil handphoneku yang tertinggal dikamar, saat
aku buka ternyata ada sms dari nomor yang tak ku kenal.
“Udah sembuh Bin?? Ardian.” Kata-kata yang tertulis
di sms itu, membuatku tersenyum dan entah mengapa aku merasakan sebuah
kebahagian dan kehangatan ketika aku membaca sms darinya. Kami pun saling
mengirim sms satu sama lain.
“Ehm.. Yaudah semoga cepat sembuh ya Bin, tidurnya
jangan malam-malam lagi.” Ketika ia menuliskan kata-kata ini dalam smsnya,
entah mengapa aku tiba-tiba tersenyum dengan riangnya.
***
Adzan
isya pun telah berkumandang dihamparan gelombang udara, dan mendarat tepat pada
orang-orang yang rindu terhadap Tuhannya. Selesai menjalankan shalat isya aku
pun berganti pakaian untuk segera pergi berobat tradisional bersama papa, umi,
dan ke dua adikku. Selama diperjalanan aku ditemani pula oleh Ardian, karena
aku dan dia masih saling mengirim sms satu sama lain.
“Kayaknya seru nih yang lagi diluar… oh iya Bin, lu
tenang ajah, pada saatnya nanti lu bakalan ngerasain bahagia, mungkin belum
saat ini, tapi kebahagiaan itu bakalan datang. Allah itu sayang dan cinta sama
lu. Karna lu itu orang yang taat.. gue yakin semua ini bakalan berlalu.. Udah
sampai lum?” kata-katanya membuatku makin menganggumi temanku yang satu ini.
Saat aku masih menulis sms aku melihat ada sebuah mobil fortuner yang
bertabrakan dengan sebuah truk, mobil fortuner itu rusak parah dan truknya
terguling hingga merubuhi salah satu rumah warga yang ada dipinggir jalan. Saat
itu pula aku menceritakan kejadian itu kepada Ardian.
“Lu berobat didaerah mana? Kemiling bukan?tadi gue
juga ngeliyat mobil fuso itu terguling. Tapi, gue nggak tau tabrakan atau apa.”
Jawaban Ardian ini membuatku bertanya-tanya
mengenai keberadaan rumahnya.
“gue berobat didaerah susunan baru. Tadi itu
tabrakan, iih ngeri banget ngeliat mobil fortuner yang rusak parah itu. Lu
belum tidur?” balasku.
“Dimananya? Rumah gue juga didaerah susunan baru.
Tempat siapa Bin? Oohh.. gue kira tadi itu mobil yang nggak bisa nanjak, gue
belum tidur kog.” Jawabnya. Karena hal ini aku makin penasaran saja dibuatnya.
“Dideket pesantren An Nahl, gue mau berobat
tradisional.” Tidak lama kemudian handphoneku kembali bergetar.
“Nah, rumah gue dideket tuh pesantren.. 2 gang dari
pesantren, lu masih disusunan baru? Nama bapaknya siapa?” balasnya, yang
memburuku dengan berbagai pertanyaan, mungkin ia juga penasaran sama seperti
aku.
“Iya, gue masih disini. Namanya pak Misron.”
“Oo pak Misron.. kenal lah gue, masih disitu? Kapan
mau pulang? Rumah gue itu depan rumah pak Misron yang menghadap ke gang sebelah
sana.” Membaca sms darinya membuat mataku terbelalak. Aku pun menyuruhnya untuk
kesini, akan tetapi saat ia baru mengeluarkan motor, aku dan keluargaku sudah
waktunya untuk pulang, akhirnya aku pun membatalkannya. Jujur aku sangat kecewa
padahal entah mengapa aku mengharapkan kedatangannya malam ini.
***
Siang
telah berlalu, matahari pun telah kembali keperaduannya, dan malam kini telah
menunggu. Seperti biasa malam ini aku juga harus pergi untuk berobat
tradisional ke rumah pak Misron. Sesampainya disana aku tak tenang, aku jadi
ingin bertemu dengan Ardian.
“Ardian itu siapa kamu nak?” tanya
pak Misron yang telah membuyarkan lamunanku.
“Oh, dia teman les aku pak. Anaknya baik, pintar
lagi.” Jawabku. Namun, reaksi pak Misron setelah mendengar kata-kataku ia malah
tersenyum, dan hal itu membuatku penasaran.
“Keluarga dia itu masih sedulur sama bapak,
kakaknya yang kuliah di mesir itu kan?”
aku pun hanya tersenyum mendengar jawaban pak Misron.
“Iya pak, dan Ardiannya sekarang malah keterima di IPB.” Dan
kulihat pak Misron terdiam sejenak.
“Kamu sudah tahu rumahnya? Rumahnya dekat kok, di
gang sebelah depan rumah bapak ini. Kalau kamu mau main kesana, mainlah.”
Seketika itu dahiku mengerut dan aku langsung tertunduk senyum mendengar
perkataannya pak Misron.
“Nggak mungkinlah pak, wong
aku ini cewek, masa malem-malem kerumah cowok.” Jawabku dengan logat wong jowo. Saat aku masih berbincang-bincang dengan pak
Misron, tiba-tiba adikku merengek padaku untuk
beli makanan. Akhirnya aku pun menemani mereka untuk membeli makanan,
aku pun berinisiatif untuk membeli roti bakar yang ada didepan gang rumahnya
Ardian. Dan aku pun menyuruh Ardian
untuk menghampiriku, cukup lama aku menunggunya. Namun, tidak lama kemudian ia
keluar dari rumah bercat hijau dan menghampiriku, ternyata ia juga mau membeli
roti bakar pula. Saat itu ia ditemani oleh adik perempuannya. Ketika aku dan
Ardian sedang becakap-cakap, tiba-tiba mobil papa melintas dan aku pun tak
melihatnya.
“Bintang, itu mobil kamu bukan?” tanya Ardian sambil menunjuk mobil yang baru saja
melintas. Aku pun sempat panik, karena papa kadang suka ngerjain aku. Dan saat itu aku langsung menelpon papa, akan tetapi
tidak diangkat, dan saat ku telpon lagi handphoneku malah lowbet. Akhirnya Ardian
menawarkan aku untuk menelpon papa dengan handphonenya. Namun, aku menolaknya
dan saat itu aku langsung berpamitan dengannya dan berlari menuju rumah pak Misron.
Sesampainya disana, umi dan pak Misron malah tertawa melihat aku, yang berfikir
papa dan umi meninggalkan aku.
“Kenapa kamu lari kayak gitu? Kamu pikir papa
ninggalin kamu?” tanya umi dengan
sedikit gelak tawanya. Aku pun masih terdiam dan mencoba mengatur ritme
nafasku.
“Kalau pun kamu ditinggalin sama papa kan kamu bisa nginep
tempat bapak, atau bapak minta tolong sama Ardian buat nganterin kamu.” Ujar
pak Misron yang sedikit meledekku. Baru saja pak Misron meledekku mengenai
Ardian, eh malah Ardian nelpon aku. Aku pun sedikit malu dengan pak Misron,
akhirnya aku angkat telpon dari Ardian.
“Assalamualaikum..” salamku. Ruangan ini pun
menjadi sunyi.
“Waalaikumsalam, gimana ada nggak orang tua kamu?” tanya Ardian yang mungkin mengkhawatirkanku.
“Disini ada umi kok, ternyata papa nganterin
istrinya pak Misron yang mau berobat ke bidan.” Jelasku, aku pun merasa senang
saat dia menelponku.
***
Ditempat
les, aku duduk disebelah Ardian. Dan ketika
disela-sela pelajaran Ardian menyuruhku untuk membaca sms dari Facebook Massage
yang tertulis “ Sisca Clara Sari memulis status Love You, Dani Nusantara”
ketika aku membaca kata-kata itu aku sedikit tersentak. Karena yang aku tahu
Sisca itu adalah mantannya Ardian, dan kata Bulan si Sisca mutusin Ardian
karena Ardian nggak mau megang tangannya. Saat aku tahu hal itu aku makin
mengagumi sosok pria yang satu ini. Coba deh pikir ditahun 2010 ini susah
banget nyari cowok yang bener-bener menghargai wanita. Setelah aku membaca sms
itu aku pun berkata pada Ardian.
“Sabar iya, coba deh lu mencintai seseorang karena
kecintaannya terhadap Tuhannya, pasti lu bakalan dapetin cewek yang bener-bener
baik buat lu. Dan jangan lupa buat
shalat istikharah.” Saat itu aku menatap matanya. Seketika itu aku merasa ada
satu goresan luka di hatiku, rasanya ingin menangis. Karena aku pikir dia pasti
masih mencintai Sisca. Mengapa rasa ini tiba-tiba muncul? Ada sesak yang memenuhi dada ini. Dan yang membuatku bingung kenapa Ardian memberikan
sms itu padaku, sedangkan aku sendiri tidak tahu tentang siapa Sisca. Aku hanya
mengetahui sedikit lewat kabar angin. Kenapa harus aku? Oh Tuhan apalagi
rencanaMu. Dua jam pelajaran telah berlalu kini waktunya kami istirahat dan
saat istirahat Bulan senyum-senyum padaku. Aku pun merasa bingung kenapa sih nih
anak.
“Cie…cie…” Bulan dan Ajeng meledekku tanpa ku tahu
apa sebabnya.
“Kenapa sih Bunga, Mami?” tanyaku yang penasaran.
“Pantesan ajah udah lama aku mikir, kalau kamu dan
Ardian itu ada yang beda. Ternyata benar feeling
ku.” Mami tertawa melihat wajahku yang gugup.
“Bener banget tuh Bunga, Hhayo.. kamu suka iya sama
Ardian?” pertanyaan mami ini seakan membuatku tersambar petir.
“Nggak lah mami, aku itu tadi cuma ngasih saran
ajah kok, kan
aku temannya.” Aku berharap apa yang mereka katakan itu tak benar.
“Hhallah, bilang suka ajah kog susah. Kamu itu
selalu cerita tentang Ardian, bahkan kamu pernah mimpiin dia kan? Saya restui kok.. Hhahaha..” wajahku
saat itu mungkin bagaikan tomat busuk yang memerah.
“Kalau pun aku suka sama dia, kan belum tentu Ardian juga suka sama aku,
iya nggak mi?” dalihku.
“Nggak tuh, mami pikir Ardian juga punya rasa yang
sama dengan kamu. Buktinya waktu kamu nggak ada dia pasti nanya, Bintang
kemana? Dan dia itu lebih dekat ke
kamu, sedangkan sama kami ajah nggak padahal kami kan udah satu tahun sekelas. Pokoknya
bedalah perhatiannya ke kamu.” hhuft… tak ada yang bisa membela jawabanku kalau
kayak gini caranya, pikirku. Dan
alhasil selama dijalan aku terus-terusan diledeki, namun bukan hanya untuk hari
ini saja aku diledeki akan tetapi setiap hari, termasuk jika ada Ardian sekali
pun.
Sama
halnya dengan hari ini, ketika mempelajari golongan darah. Menurut pak Doni
golongan darahnya Adam dan Hawa itu “A dan B” , ketika ditanya mengenai
golongan darah hanya aku yang golongan darahnya A dikelas, sedangkan Ajeng dan
Ardian B, si Bulan dan Mardi O. Karena aku A sendiri makanya aku membela diri.
“Yah nggak ada pasangannya.” Ledek Bulan.
“Hhuft.. kalau nggak ada golongan darah A pasti
nggak ada kalian. Kan Adam dan Hawa golongan darahnya A dan B.”ujarku yang
meyakinkan diri.
“Berarti kamu cocok dong sama Ardian, kan Ardian B
kamu A.” jawab Bulan dengan lantangnya. Saat itu wajahku memerah, dan ketika
aku melihat Ardian, dia hanya tersenyum garing. Jadi merasa nggak enak nih sama
Ardian. Tidak sampai disitu saja, ketika pelajaran kimia berlangsung, bu Laeda
bercerita sedikit mengenai angka
kehidupan, hal ini terjadi karena aku dan Bulan selalu rebutan absen
nomor sembilan. Menerut bu Laeda angka kehidupan itu seperti gambaran akan
kehidupan kita cara menghitungnya
yaitu jumlah tanggal lahir + jumlah bulan + jumlah tahun lahir. Misalnya, angka
kehidupanku 9+9+1+9+9+2 = 39 = 3+9 = 12 = 1+2 = 3, jadi menurut bu Laeda angka
kehidupan aku adalah tiga.
“Kalau tidak salah, orang yang angka kehidupannya
tiga itu setia banget dan berjiwa sosial.” Ujar bu Laeda
Seketika itu Bulan sangat senang karena setelah
dihitung ternyata angka kehidupannya adalah sembilan sama seperti angka
kehidupannya Ardian. Hhuft.. sempet BT sich tapi yah mau diapain lagi. Tidak
terasa waktu begitu cepat berjalan akhirnya saat istirahat pun telah datang.
Ketika kami semua keluar kelas ternyata diluar sedang hujan deras dan kami pun
tidak bisa untuk makan, sedangkan perut sudah miscall-miscall dari tadi.
Alhasil aku berinisiatif untuk meminjam payung guru, lalu aku pun mengajak
bunga. Saat itu bunga masih berdiskusi dengan Ardian dan Mardi mengenai apa
yang mau dibeli. Karena mereka lama dan aku saat itu masih BT akhirnya aku pun
berjalan terlebih dahulu, dan ketika itu aku mendengar Bulan memanggilku. Jadi
aku pikir Bulan mengejarku, dan saat aku pikir Bulan ada dibelakangku, aku
langsung berhenti mendadak, dan ia pun menabrakku. Namun ketika aku membalikan
badan, aku salah orang. Ternyata yang mengejarku bukan Bulan tapi Ardian dan Mardi.
Dan yang menabrakku adalah Ardian,
alhasil aku jadi salah tingkah deh. Dan
untuk menyembunyikan rasa itu aku memutar-mutar payungku sehingga airnya
mengenai mereka. Saat itu aku sungguh senang, karena tingkah ku membuat ku
seperti anak-anak yang seolah tak punya beban. Sesampainya diwarung batagor,
aku melihat dua temanku yang kebingungan, karena mereka tidak bisa kembali ke
tempat les, karena aku nggak tega melihat temanku itu jadinya aku meminjamkan
payungku pada mereka.
“Nih Res, payungnya kamu pake ajah, toh aku juga
sendirian kaliankan berdua.” Sambil tanganku menyerahkan payung untuknya.
“Tapi, kamunya gimana?” ia pun menatapku,
“Udah santai ajah, kan ada teman aku.” Ujarku sambil menunjuk
Ardian dan Mardi.
“Thanks, ya Bintang.” Mereka pun berlalu dengan
payung yang tadi ku pinjamkan untuk mereka.
Sementara Ardian dan Mardi beli
batagor, akhirnya aku menyebrang jalan untuk ke indomaret membeli es krim,
karena aku tak menggunakan payung, alhasil pakaianku basah semua. Dan ketika aku keluar dari indomaret, aku pun
langsung bergegas untuk menyebrang kembali. Akan tetapi, aku kalah langkah
dengan Ardian, sebab ia telah menyebrang terlebih dahulu dan memayungiku, dan
kembali kewarung batagor. Ternyata diwarung itu aku bertemu dengan temannya Ronal.
Sementara Ardian mengantarkan Mardi kembali ke
tempat les, aku pun menyempatkan waktu untuk mengobrol-ngobrol dengannya.
“Hhayo
Bintang.. Sapa tuh cowok tadi?
Penggantinya Ronal iya?” Tanya kak
Wahyu itu sontak membuatku kaget.
“Mhmm.. itu teman les Bintang. Kok kakak bisa mikir
dia penggantinya Ronal?” tanyaku
kembali.
“Kalau dari cara
kalian, aku pikir kamu pacaran sama dia.” Jawabannya membuatku bingung, aku
juga nggak tau apa maksudnya dengan “cara
kalian” padahal menurut aku, aku dan Ardian biasa saja. Tidak lama kemudian
Ardian pun datang menjemputku.
“Kak, aku duluan iya.” Ia pun tersenyum padaku dan
kami pun segera meninggalkannya.
“Siapa Bin?” tanya
Ardian.
“Yang tadi? Oh itu teman aku sewaktu latihan
parkour.” Kami pun terus berjalan, jujur saja pada saat bahuku dan bahunya
bersentuhan aku merasakan jantungku berdetak berkali-kali lipat dari biasanya.
Berada disampingnya membuatku nyaman dan hangat, bahkan dingin karena air hujan
yang membasahi tubuhku pun tak terasa ketika aku berada disampingnya. Air hujan
pun terus mengalir bersama kebahagiaan ku hari ini. Ingin rasanya saat itu aku
menjerit “Ya Allah, Aku Jatuh Cinta..”
***
Setelah
kejadian itu aku yakin bahwasannya aku mencintainya karena kecintaannya
terhadap Tuhannya. Akan tetapi aku tak bisa untuk mengungkapkan padanya, karena
aku tak akan punya waktu untuk bilang bahwa aku menyayanginya. Dan juga tanggal 26 bulan ini dia akan berangkat ke bogor untuk meneruskan
studinya, jadi dia nggak mungkin buat mikirin masalah aku ini, karena dia sedang
disibukan dengan masa depannya. Aku pun berniat untuk memendam rasa ini, dan
berharap pada takdir. Karena jika kami berjodoh, aku yakin aku akan
dipertemukan kembali dengannya. Dan
juga seusai lebaran ditahun ini kami ingin mengadakan ulang tahun bersama dan
reunian. Aku harap saat itu kontrakku selama di dunia masih ada, karena aku
takut akan kesehatanku yang kedepannya belum jelas. Aku pun memutuskan untuk
membuat 69 buah bintang-bintang kecil sebagai kenang-kenangan untuknya, lalu
aku pun mencari botol kaca untuk menaruh bintang-bintang itu, dan akhirnya
setelah aku mencari dari Mall Kartini, dan Simpur, botol ini pun aku temukan di
Gramedia. Selagi berada di Gramedia aku berfikir untuk sekalian membeli buku,
dan saat aku sedang mencari buku, aku melihat buku yang berjudul “Rahasia
dibalik tanggal lahir” sejenak aku membacanya, ternyata buku itu menjelaskan
tentang angka kehidupan, dan yang membuatku kaget saat aku membaca bagian
akhirnya, yaitu pasangan ideal angka kehidupan 3 adalah angka 1 dan 9. aku
sempat berfikir sejenak, bukannya angka kehidupan Ardian 9?. Selain memberi 69
bintang-bintang, aku pun menulis sebuah surat
diatas selembar tissue untuknya, akan tetapi surat ini tidak jadi aku berikan padanya.
Karena jujur aku merasa malu, bahwasannya aku adalah wanita berjilbab,
bagaimana pandangan agama jika seorang wanita berjilbab menyampaikan
perasaannya. Lebih baik untukku menahan rasa ini, karena aku tak ingin ia
memandang aku sebagai wanita murahan ketika aku menyampaikan apa yang ku
rasakan.
Di balik kesunyian, 1 Rajab 1431 H
Assalamualaikum wr wb.
To : Ardian Firmansah
[pemuda yang mencintai Tuhannya]
Maaf
jika aku telah lancang menyita waktumu. Ada hal yang harus aku katakan,
yang jika tidak ku katakan mungkin aku akan menyesal. Jujur sungguh berat
bagiku untuk melakukan ini. Namun aku berfikir jika tidak ku ungkapkan sekarang
dan tetap berusaha menunggu hari esok akan tiba, aku takut hari itu tak akan
pernah datang.
Terkadang
aku berfikir, apakah Tuhan yang telah membolak-balikan hati ini? Aku tak
mengerti akan semua ini, ketika hati ini telah dihancurkan, aku kembali bersua
kepada Sang Khaliq. Aku memohon, “jika dia
bukan imam untuk hidupku kini, maka lenyapkankah bayangannya yang menari
dalam imajinasiku. Dan tunjukanlah
seseorang yang bisa membuatku semakin mencintai Engkau dan RasulMu.” Setelah
pertemuan kita untuk yang kedua kalinya, disaat kita belum mengenal satu sama
lain, ketika itu aku memimpikanmu dan anehnya kau tidak hanya sekali hadir
dimimpiku, dan membuatku semakin bertanya-tanya, dan banyak hal yang membuatmu
seakan ada dalam hidupku.
Aku
takut cintaku pada Allah berkurang karena kehadiranmu. Aku takut dalam ibadahku
yang kulihat dirimu. Aku takut jauh dari Allah karena perasaan ku ini. Jika
anugerah itu harus kumiliki, maka semoga kehadiranmu adalah pembawa cahaya
bagiku, dan bisa membuatku semakin mencintai Allah SWT dan RasulNya. Semoga
Allah meridhoi tali silahturahmi ini.
Waalaikumsalam wr wb
[aku ingin mencintai seseorang karena kecintaannya
terhadap Tuhannya]
Jika
surat ini tak
bisa ku sampaikan padanya, aku berharap biarlah waktu yang mengatakan bahwa aku
mencintainya. Dan mungkin aku benar
bahwa, hanya lewat tulisanlah aku bisa berbicara pada dunia. Dan kini lewat tulisan aku hanya ingin berkata “Ya Allah, aku jatuh cinta.. “ meskipun
rasa ini tak bisa ku sampaikan padanya namun, aku berharap ia bisa merasakan
pula akan rasa yang begitu indah ini. Dan
jika aku terpisah dalam jarak dengannya, aku akan memutuskan untuk menunggu
seseorang yang aku cintai, dari pada mencintai seseorang yang tersedia untuk ku
kini. Aku berharap padaMu ya Allah, semoga Engkau meridhoi perasaanku ini. Amien..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar