Rabu, 22 Februari 2012

Presiden Kulit Hitam, "AS"



Judul             : Ketekunan dan hati putih Barack Obama
Penulis           : Simon Saragih
Penerbit         : Buku Kompas, Jakrta, Cetakan I, Januari 2009
Tebal            : 376 Halaman
Harga           :Rp 68.000,00


            Luar biasa, itulah kata yang tepat untuk mengambarkan pesona Barack Obama memang begitu menyita perhatian dunia, apalagi saat ia dilantik sebagai Presiden Amerika yang ke-41 dan Presiden Pertama yang berkulit hitam (keturunan Afrika-Amerika). Bagimana tidak, saat pelantikannya begitu banyak publikasi dimedia tak terkecuali di Indonesia, hampir semua stasiun televisi menayangkan siaran langsung pelantikan Presiden Barack Obama. Mungkin hal ini ditambah factor Obama yang pernah bersekolah di Menteng, Jakarta. Serta, rekaman jejak Obama dalam membangun karier polotik, dan gagasan atau sikap yang ia tunjukan dalam pertarungan menuju kursi kepresidenan AS. Karena minoritas, ia dibenci. Karena warna kulitnya, ia difitnah. Karena nama Barack Hussein Obama, ia disebut membahayakan.karena pernah bersekolah di Indonesia, ia dituduh sebagai ekstremis (orang yang paling keras/berlebih-lebihan tuntutannya). Bahkan, sekelompok orang bersiap untuk membunuhnya. Akan tetapi, semua fitnah dan tudingan-tudingan tak berbukti itu malah menjadi nilai yang menguntungkan dalam perjuangan Obama untuk menuju kursi kepresidenan.
            Dalam buku karya Simon Saragih, begitu banyak kisah mengenai perjuangan Obama dari ia kecil hingga dewasa, dari ia masih menjadi orang biasa hingga terkenal, dan dari ia dilecehkan hingga ia diagung-agungkan. Didalam buku ini pula terdapat kisah-kisah Obama yang begitu memilukan. Bagaimana tidak, torehan luka tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Bahkan saat ia kecil ia selalu bertanya kepada ibu, kakek, dan neneknya “Dimana ayah kandungku?” kesedihan itulah yang ia torehkan dalam bukunya yang berjudul “The Dreams from My Father.” Akan tetapi, saat ia makin menuju kedewasa, nasibnya makin baik. Mungkin karena peran ibunya Stanley Ann Dunham, atau didikan kakek dan neneknya. Namun, ada satu hal yang pasti, bahwasanya Tuhan memberikan otak yang cerdas kepada Obama Junior. Karena, ia telah lulus dengan predikat baik dari universitas bergengsi di AS : Universitas Colombia New York dan Universitas Harvard. Kini ia telah menjadi Presiden AS, setelah melewati masa-masa yang sulit, dan mulai mematrikan motonya yaitu persatuan, pembauran, inklusif, perhatian sesama, serta menghindari dendam dan dengki. Ternyata , sikap ini terbukti mampu  membuat Obama melewati fitnah, dan tidak sedikit yang menyanjungnya setinggi langit, tetapi tidak sedikit pula yang ingin menghujat dan menjatuhkannya.
Buktinya, Hillary yang terlahir kaya raya dan berkulit putih yang merupakan pesaing sesama partai Demokrat itu, saling berguguran satu persatu. Alhasil, warna kulit bukanlah factor terpenting, walaupun sempat dikatakan sebagai factor yang perlu, dan mayoritas kulit hitamlah yang mendukung Obama. Namun, tidak mungkin 20% suara dari kaum kulit hitam bisa mendongkraknya, dan kaum kulit putihlah yang tetap menjadi penentunya. Hal ini disebabkan, karena sejak awal Obama telah menonjolkan diri sebagai tokoh bagi semua orang. Hillary memang berhadapan dengan pria berkulit hitam. Namun, Obama memiliki nurani dan rencana-rencana putih. Ini bisa dilihat saat ia memenangkan kursi kepresidenan, “Dia adalah wanita pejuang, yang perannya tetap saya butuhkan.” Kata Obama yang memuji, serta Obama pun membantu Hillary untuk membayar hutang-hutang Hillary selama masa kampanye.
             Kendati Buku ini begitu mengundang kagum dari banyak pihak, termasuk mereka yang seharusnya bisa bersifat kritis. Ada beberapa catatan penting yang bisa kita ajukan kepada pengarangnya. Menurut saya, dalam buku ini hampir 99% merupakan pujian untuk Obama, dan tidak dituliskannya kesalahan-kesalahan Obama dalam masa kampanye yang mungkin bisa menurunkan jumlah suara. Misalnya pada saat ia gencar berpidato diberbagai negara akan tetapi, ia tidak pernah memberikan reaksi apapun mengenai serangan Israel ke Gaza bahkan, setelah 1.300 jiwa warga Palestina melayang. Dan yang lebih membuat kita kecewa adalah setelah pidato inaugurasinya ia juga tidak menyinggung mengenai serangan Israel ke Gaza. Alih-alih mengecam, menyebut pun tidak. Bahkan, beberapa hari sebelum pelantikan, saat dunia islam mulai kecewa atas diamnya Obama dalam tragedi Gaza, media beramai-ramai memberitakan pidato mantan senator Chicago itu, mengenai dukungannya terhadap Israel didepan forum AIPAC (komunitas warga yahudi di AS). Stasiun televisi pun membuat news atau talkshow, sambil berulang-ulang menayangkan cuplikan pidato Obama saat berkunjung ke Israel pada musim panas 2008.
            “Jika seseorang mengirimkan roket-roket kerumahku, saat kedua anak perempuanku sedang terlelap tidur dimalam hari, aku akan melakukan apapun dalam kekuasaanku untuk menghentikan hal itu. Dan aku berharap orang-orang Israel pun melakukan hal yang sama.” Kata Obama lantang. Serta, baru belakangan ini dalam banyak tulisan dan tayangan disampaikan bahwa terpilihnya Obama sebagai presiden AS tak bisa lepas dari peran lobi yahudi.
            Terlepas dari retakan tersebut, buku ini menggemakan sebuah kenyataan pada kita. Bahwasannya, “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Namun, kita juga harus lebih intensive lagi dalam mengartikan semua kebenaran Obama dalam buku ini. Karena, diluar dari buku ini kita lebih melihat siapa sosok Obama.
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar