Ketika Kekerasan Dianggap Wajar
REP | 26 October 2012 | 22:37
Dibaca: 219
Komentar: 0
Nihil
Tulisan ini merupakan tulisan saya yang dimuat di Tabloid Kampus Universitas Lampung (Teknokra Unila) dan menuai kontroversi.
13
Oktober 2012, jarum jam menunjukan pukul 15.00 tim Teknokra menuju ke
lokasi keakraban Teknik Mesin, di Way Lima Pesawaran. Belum masuk ke
lokasi, Pak,pok,pak, suara mulai terdengar. Padahal kami belum melihat apapun hanya pohon-pohon karet yang berbaris rapi.
Langkah
kaki kami pun terhenti, delapan meter dihadapan kami ratusan orang
terpencar diantara pepohonan karet. Jika delapan meter lagi berjalan
maka kami akan menemukan tanah berbentuk punden berundak atau seperti tangga penghubung antara tebing dan sungai. Disebelah sungai ada sawah dan tanaman perdu. Disanalah mereka terpencar melakukan keakraban.
Pemandangan
pun mulai terlihat dari atas tebing, mereka berada di bawah tepatnya
terpencar di aliran sungai. Mahasiswa yang mengenakan almamater
membentuk kelompok. Satu kelompok terdiri dari 5-6 orang. Mereka harus
mengitari banyak pos, ada pos bayangan ada pos satu, pos dua dan
seterusnya. Pos bayangan berada di tangga dekat pepohonan karet sedangkan pos sesungguhnya berada di bawah sungai.
Mereka duduk berjongkok sambil menyanyikan yel-yel. Tangan mereka disuruh menengadah lalu dipukul dengan sandal berulang-ulang dari satu pos ke pos lainnya. Tak hanya itu satu persatu mahasiswa baru dipanggil oleh senior, Tamparan pun mulai mendarat di pipi para mahasiswa bahkan sampai berpuluh-puluh kali tamparan itu mereka terima. Tak hanya satu senior yang melakukan itu, tapi hampir dari setiap pos senior melakukan hal yang sama.
Semakin
larut jumlah senior yang datang semakin banyak. Penjagaan pun ketat,
dimana-mana banyak yang menjaga. Penerangan yang ada hanya obor-obor
disepanjang perkebunan.
Secara bergilir dan berulang-ulang mahasiswa berpakaian almamater itupun ditampar. Ada
yang hanya menggunakan tangan, ada yang memakai sandal untuk menampar.
Dan ada juga yang keningnya dipukul dengan benda berukuran kepalan
tangan manusia dan berwarna hitam. Meski keras terhadap pria mereka sama sekali tak menyentuh mahasiswa yang wanita. Wanita dipisahkan dari pria.
Sutan
bukan nama sebenarnya membenarkan bahwa keakraban yang mereka
langsungkan dari tanggal 12-14 Oktober memang terjadi kekerasan. “Kayak
anggota TNI dan STPD waktu lampau,” terangnya. Namun saat propti kekerasan yang terjadi lebih parah dibandingkan dengan keakraban. “Propti lebih parah daripada makrab, tapi tetap aja parah,” terang Sutan.
Hak Asasi Dicabut
Boy bukan nama sebenarnya hingga sampai saat ini pun masih trauma dengan kejadian kekerasan tahun lalu. Ia pun menceritakan kronologisnya kepada kami. “Sebelum berangkat ke youth camp
lokasi yang dijadikan sebagai tempat makrab tidak ada kontak fisik yang
terjadi antara kami dan senior, bahkan selama perjalanan kami
bernyanyi-nyanyi,” ujar Boy bukan nama sebenarnya yang saat itu ikut makrab di tahun 2011.
Menurut Boy, semua gelak tawa berubah menjadi ketakutan setelah jarak beberapa meter dari youth camp,
kami mulai dibentak-bentak agar mau menundukan kepala, tidak hanya itu
kami pun saat disuruh turun dari truk ditendangi dan dipukuli oleh
senior. Ternyata sesampainya dibawah rupanya senior sudah menunggu kami.
Mereka
membawa bambu dan membentak-bentak kami dengan menggunakan bambu
tersebut. Setelah itu kami berkumpul lalu kami dibentak-bentak untuk
menundukan kepala sambil jalan merangkak dan digiring
kesuatu tempat lapangan yang berpasir seperti lapangan voli lalu,
sesampainya disitu ada senior yang berteriak, “Disini Hak Asasi Manusia kalian saya CABUT !”
Setelah itu kami disuruh menunduk agar tidak bisa melihat senior dan di presser
(ditekan pikirannya) tiba-tiba kami ditabrak-tabrak oleh senior, di
tendang, digeret dan bahkan disitu beberapa dari kami mendapat tamparan
dari para senior.
Beberapa
saat kemudian kami mengambil barang-barang untuk diletakan ditenda dan
setelah itu kami disuruh sholat dan makan, seusai istirahat kami menuju
aula untuk menunggu para alumni dari angkatan paling tua 1990-an, 2000,
2001, yang hanya mewakili.
Tapi, yang
paling banyak datang adalah mulai dari angkatan 2004 sampai dengan
angkatan 2009, saat adzan magrib berkumandang kami pun bergegas
menunaikan sholat terlebih dahulu setelah itu kami kembali ke aula
tiba-tiba para alumni datang entah berapa ratus jumlah alumni yang hadir
ditempat itu, dan setiap angkatan memberikan materi hingga pada pukul 01.00WIB materi pun selesai.
Sirine Tanda Kekerasan Dilanjutkan
Boy
pun melanjutkan pembicaraan, menurutnya setelah itu pun diizinkan untuk
tidur akan tetapi ia dan temannya mendapat bocoran dari beberapa senior
bahwasannya tepat pukul 02.00 WIB tenda akan dirubuhkan. Akhirnya kami pun tidak ada yang tidur, untuk berjaga-jaga dan akhirnya itu benar-benar terjadi, tenda pun dirubuhkan. Sirine pun berbunyi dan kami bergegas bangun.
Lalu kami digiring menuju ke lapangan berpasir semacam lapangan voli dan kami berkumpul bersama kelompok masing-masing dimana. Setiap kelompok berisi 10 orang lalu kami disuruh berpegangan kuat-kuat satu sama lainnya dan tidak boleh ada yang terlepas apabila terlepas maka kami akan hancur karena dipukuli oleh senior.
Selanjutnya kami di presser
lalu merayap untuk menuju tempat seperti gladiator dengan menggunakan
almamater hingga almamater kotor bahkan kancing-kancing pada almamater
pun hilang.
Lingkaran Setan
Menurut Sutah di hari pertama mereka disuruh membuat lingkaran setan. “Ada tuh yang namanya malam pertama,
itu malam hari pertama dimana kita semua dikumpulkan disuruh membentuk
‘lingkaran setan’, itu kita disuruh bergandengan lengan dengan rekan
sebelah, lalu kita ditendang, dihajar supaya lengan kita tidak bersatu
lagi, dan untungnya gak ada yang melepas, Ya kalo sampai lepas artinya angkatan kami tidak kompak,”terangnya.
Berbeda dengan Sutah, di zaman Boy lingkaran setan yang mereka buat kandas. Kami disuruh membuat lingkaran setan. Lalu
para senior berupaya untuk melepaskan gandengan tangan kami dengan
menampar kami, ada yang dikerjain ataupun dirayu supaya lepas dari
lingkaran setan tersebut, apabila terlepas maka dia akan dihajar oleh
para senior.
“Ada teman saya yang terlepas dari lingkaran setan, akhirnya ia dihajar oleh para senior,” ungkap
Boy mengenang kejadian tersebut. Menurut Boy ia dan angkatannya pun
tidak tidur, karena setelah acara lingkaran setan mereka disuruh baris,
dipresser, push up, dan guling-guling. Akhirnya saat adzan subuh
berkumandang kami pun disuruh sholat dan istirahat setelah sholat kami
melakukan senam pagi lalu sarapan.
Setelah
sarapan kami mulai bergegas ke pos-pos mulai dari angkatan 2004 sampai
pos angkatan terakhir yaikni 2008. Kami mulai dari pos yang paling tua
terlebih dahulu, sesampainya dipos angkatan 2004 kami tidak diapa-apain
hanya disuruh membuat api unggun karna posisinya saat itu sedang hujan.
Lalu
kami mulai merangkak hingga sampai di pos angkatan 2005, disana kami
ditanya tentang masalah pribadi misalnya “Lo, pernah ciuman nggak? Kalau
nggak gua tamparin!” ujar senior, Akhirnya
ada yang mengaku pernah dan ada yang tidak lalu yang menjawab tidak
pernah mereka mendapatkan tamparan dari para senior.
“Ada
juga temannya dari kelompok lain yang disuruh berhadap-hadapan dan
membuka celana lalu entah disuruh apa, teman saya sampai lari ketakutan.
Hingga saat ini temannya saya tak mau membuka mulutnya tentang itu ia
masih ketakutan,” akunya.
Setiap Pos Ditampar
Pos
angkatan 2005 ini berada dipinggir sungai apabila kami ditanya tidak
bisa maka kami direndam di air hingga menggigil. Bahkan menurut Boy
selama di pos angkatan 2005 ia selalu ditamparin oleh senior.
“Setiap
pos ada yang namanya wedjangan, atau istilahnya password saat saya
ditanya saya tidak bisa karna saya ketakutan, terteka hingga tidak bisa
berpikir, buyar dan akhirnya saya ditamparin berulang kali hingga jawabannya benar,” kenang Boy akan kekerasan yang ia rasakan saat Makrab.
Setelah itu senior mengatakan bahwasanya di youth camp adanya perlakuan kontak fisik yang mereka lakukan agar rasa kebersamaan, solidaritasnya kuat, temen sakit satu sakit semua.
Setelah
selesai di pos angkatan 2005, kami bergegas ke angkatan 2006
sesampainya disana kami disuruh baris tiba-tiba kami ditamparin semua
oleh senior. Di angkatan
2006 kami disuruh minta tanda tangan senior dan harus kenal seniornya
kalau tidak kenal maka kami akan hancur disana seperti di pukul dan
ditamparin.
“Saya
pun mendapat tamparankarna ketika saya meminta tanda tangan salah satu
senior yang tidak pernah datang padahal alhamdulillah saya termasuk
dekat dengan senior 2006, akan tetapi satu senior yang saya pinta tanda tangannya, saya tidak mengenalnya hingga saya pun ditanya, kamu kuat ditampar berapa kali?
Lalu
saya menjawab 10 kali, saat pertama kali ditampar pipi saya langsung
panas hingga telinga saya terasa sakit dan berbunyi, ketika ditampar
untuk kedua kalinya saya benar-benar sudah tidak kuat lalu senior pun
menghentikan tamparannya dan berkata makanya jangan sok kuat!” ucap Boy
yang menirukan suara seniornya sambil mengingat kembali masa itu.
Selanjutnya
kami ke pos angkatan 2007, satu orang anggota kelompok saya
disembunyikan oleh senior sedangkan satu kelompok tidak boleh berpisah
sehingga saya disuruh untuk mencarinya karena saya adalah ketua
kelompok, akan tetapi diangkatan 2007 tidak terlalu parah seperti
diangkatan 2006, memang tetap di tampar dan di pukul tapi tidak terlalu
keras.
Lalu
kami bergegas ke pos terakhir yaitu pos angkatan 2008, pos ini berada
disungai kami disuruh baris disungai dan disana saya ditendang hingga
jatuh karena dipos tersebut kita harus kenal dengan semua senior, dan
sampai akhirnya selesai jam setengah enam sore, di kegiatan itu kami
tidak mandi sama sekali bahkan sikat gigi pun
tidak sempat, dan saat acara malam memang enak karena disitu kami
membakar ayam dan makam bersama serta saling minta maaf atas kejadian
yang tadi dan acara outbond.
Esok Masih Ada Kekerasan
Akan
tetapi kegiatan makrab tidak berakhir sampai malam itu, karna keesokan
harinya kami kami mengambil baju angkatan saat itu dikumpulkan dan di presser lagi, Disitu setiap sungai senior sudah menunggu disitu, disana hanya ada senior angkatan 2009 dan 2010 yang mengurus baju angkatan.
Disana
kami dikerjain disuruh nyelam dan makan santan kara yang asin lalu
sesampai puncak kami berhasil mengambil baju angkatan tersebut dan baju
angkatan tersebut tidak boleh sampai diambil oleh senior, kalau diambil
kita akan dihajar karena jika baju itu berhasl dirampas artinya kita
bisa dengan mudah mlepaskan jurusan mesin, dan akhirnya oleh
senior-senior yang dibawah berusaha menarik baju tersebut lalu kami ikat
baju tersebut hingga kuat agar senior tidak bisa menariknya.
Lalu
kami lari sambil berkata mesin..mesin…mesin sambil menuju lapangan voli
sesampainya disana kami menunggu teman-teman yang mengambil baju
angkatan, sambil disuruh mengangkat sesuatu atau barang-barang, apabila
ada anggota yang baru datang maka beban yang kami angkat ikut bertambah
sesuai dengan bertambahnya anggota.
Sampai
kami berjam-jam tidak boleh melepaskan barang-barang hingga tangan kami
sakit karena tidak kuat mengangkatnya karna barang yang diangkat ada
banyak seperi galon, batu, bambu, celana dalam, dll. Parahnya
lagi barang-barang tersebut tidak boleh jatuh, apabila jatuh kami akan
hancur, kami mengakat barang-barang tersebut sampai semua angkatan kami
berhasil mengambil baju angkatan, akan tetapi ada baju angkatan yang
diambil oleh senior dan kami disuruh untuk berusaha mengambil baju
tersebut sebelum baju tersebut diambil maka kami tidak boleh pulang.
Komti Adalah Orang Terkuat di Angkatan
Saat itu saya
tidak tahu apa itu komti, dan akhirnya saya mengacungkan tangan, dan
disitu ada sekitar sepuluh orang yang mengajukan diri sebagai komti
sedangkan yang dipiih hanya dua orang saja, untuk komti dan wakil komti,” aku Boy.
Teman-teman yang tidak mencalonkan diri membuat lingkaran setan dan kami yang mencalonkan diri berada di tengah lingkaran setan tersebut, Di tengah itu kami ditanya-tanya dan ditamparin, Setelah itu kami disuruh keluar dari lingkaran dan merayap melingkari teman-teman yang membuat lingkaran setan sampai tiga kali, lalu kami disuruh merangkak ke Gedung Teknik Elektro.
Sesampainya di gedung elektro kami disuruh push up,
lalu dipisahin dan menempel di tembok, sambil ditanya-tanya oleh
senior. Lalu kami berkumpul lagi dan disuruh buka baju dan buka celana. “Posisi saat itu hanya menggunakan celana dalam,” terang Boy.
Boy pun melanjutkan saat itu kami disuruh push up,
ditamparin dan dipukuli, lalu temen yang terpilih menjadi komti tetap
dipukuli sekuat dia, dan saya serta teman lainnya yang tidak terpilih
disuruh keluar dan mengikuti barisan awal.
Sampai disana kami di press kembali, oleh senior (komti 2006) sampai
rokok yang disulut senior habis, sedangkan saat itu posisi kami jongkok
setengah berdiri hingga kaki kami sakit dan kram. Lalu setelah usai
kami diberikan istirahat itu pun posisi berdiri dan kami disuruh
menunduk karna komti sudah terpilih, dan mereka yang terpilih mengatakan
“mesin..mesin..mesin..!” sambil mengelilingi kami tiga kali.
Begitu
juga dengan Sutan bukan nama sebenarnya menurutnya pemilihan komti
lebih berat dibandingkan dengan makrab. Pertama mereka disuruh
mengajukan diri siapa yang sanggup menjadi komti lalu di perintahkan
masuk ke sebuah ruangan besar di teknik.” Lalu mulailah dihajar
abis-abisan hingga pening kepala. Mereka mukul pake kaki juga tapi kaki
gak nendang kepala. Yang mukul banyak dia gak tahu berapa orangnya,” aku Sutan.
Tetapi
mereka tidak menghajar bagian tubuh vital seperti sendi tulang, dan
daerah kelamin mereka lebih focus ke bagian badan walaupun muka juga
kena. Bagi yang kuat digotong keluar sama tim kesehatan. Hingga yang terkuat itu yang masih berdiri hingga akhir maka dialah yang menjadi komti.
Tak Ikut Iringan Berbuah Pukulan
Kekerasan Tak Berhenti disitu, Ia
mendapatkan pukulan kedua telapak tangannya hingga memar dan membiru,
sebab kedua telapak tangannya dipukul menggunakan sendal gunung “Eiger”. Hanya karena ia dan beberapa temannya tidak mengikuti tradisi iring-iringan wisudawan Fakultas Teknik.
Padahal sudah ada teman seangkatannya yang melaporkan kejadian tersebut kepada dekan karena ia dihajar oleh senior di dalam sekret HMJ, Pemukulan
yang terjadi dikarenakan ia dianggap membangkang oleh senior, karna ia
tidak mengikuti apa yang diperintahkan oleh senior lagi. Akhirnya dekan
memarahi senior yang memukuli juniornya akan tetapi senior tersebut
tetap tidak jera.
Warga Pun Mencium Kekerasan
Tim Teknokra bersama Agus (32) salah satu
warga yang memantau kegiatan yang mereka lakukan pun terpergok salah
satu panitia. Mereka, merasa tak senang dengan kehadiran kami mereka pun
menghampiri. Salah satunya pria tinggi, berwajah putih,
bermata sipit, rambutnya belah pinggir berwarna pirang dan mengenakan
baju mesin warna biru. Dan kedua bertubuh agak pendek, gemuk, berkulit
gelap, rambut agak mohak. Mereka bertugas di pos bayangan yang fungsinya
menjaga keamanan.
Mereka
berdua bertanya mengapa kami ada di lokasi. Agus menerangkan bahwa ia
tak sengaja datang karena terdengar suara ribut-ribut dan melihat ada
peristiwa tampar menampar. “Enak banget namparin anak orang kayak gak
ada dosa mereka itu,” ujar Agus sambil mengarah ke pos bawah tempat
lokasi penamparan.
Pria bermata sipit itu pun menerangkan bahwa kegiatan keakraban yang wajar dan karena jurusan Teknik Mesin di perguruan tinggi seluruh Indonesia memang menggunakan kontak fisik. Hal
itu untuk melatih mental mereka dan tak mungkin ada perasaan dendam.
Mereka pun menyuruh kami meninggalkan lokasi dengan alasan agar
anak-anak baru tidak down karena dilihat orang luar sedang dipukuli.
Begitu juga dengan Jumono, 40 th pun bingung mengapa ia tak boleh berjualan di lokasi keakraban. Padahal sehari-harinya ia bebas berjualan disana, “Saya biasa jualan disana, tapi yang satu ini saya tidak boleh berjualan di dalam lapangan katanya biar tidak mengganggu kegiatan mereka”
“Malam hari tetap berjualan, tapi lampu harus dimatikan, lagi-lagi agar tidak mengganggu kegiatan mereka. Karena gelap dan banyak penjagaan Jumono tak tahu apa yang terjadi didalam, yang saya tahu cuman diteriakin dan disuruh push up.
Siklus Kekerasan Harus Dihentikan
Pembantu Rektor III pada pembukaan diklat UKM KSR pun mengatakan bahwa siklus kekerasan di Teknik Mesin harus dihentikan. Ia telah menerima pengaduan bahwa Teknik Mesin banyak terjadi tindak kekerasan dan keakraban dilakukan selama satu tahun. Keponakannya pun telah menjadi korban dan mengundurkan diri jadi mahasiswa.
“Banyak yang mengundurkan diri dari karena tidak tahan dengan kekerasan yang terjadi disana termasuk keponakan saya, ujar Prof Sunarto. Ia
pun telah dipanggil menteri untuk menghentikan kekerasan yang terjadi
di perguruan tinggi. Jika tidak bisa dihentikan maka harus ada pilihan
program studi ditutup dan mahasiswa dialihkan ke program studi lain.
Unila
perguruan tinggi bukan perguruan silat, nama kita akan tercoreng jika
Teknik Mesin atau program studi lainnya masih mempertahankan budaya
kekerasan. Bukan hanya teknik yang terkena dampak tapi juga Unila.
Asupan dana dari pemerintah akan dihentikan jika masih terjadi
kekerasan. Untuk apa program studi dipertahankan jika hanya mencetak
mahasiswa-mahasiswa yang suka kekerasan.
Mungkin Saya Kecolongan
Ketika dihubungi via telepon karena sedang perjalanan pulang dari Jogjakarta menuju Lampung, Ketua Jurusan Teknik Mesin Harmen, S.T., M.T mengatakan tak mungkin ada kekerasan.
Harmen heran
mengapa bisa terjadi lagi kekerasan padahal malam pertama atau malam
sabtu menginap disana gak tidur semaleman hingga setelah subuh baru
pulang. Esok harinya dekan dan sekjur juga datang menggantikan.
“Untuk
anak teknokra yang langsung melihat peristiwa pengtamparansaya tak tahu
malah, mungkin saja benar. Mungkin saya kecolongan. Untuk video
kekerasan yang beredar tahun lalu saya tak tahu menahu,” terang Harmen.
Ia sudah mewanti-wanti dari awal ketika mereka minta izin, tidak boleh lagi bicara kasar, tidak boleh lagi ada kekerasan, dan tidak boleh lagi ada tampar-tamparan.” Saya izinkan dan saya tanda tangan itu surat karena
saya percaya. Prinsip saya hanya kepercayaan jika mereka melanggar
berarti hilang sudah kepercayaan itu. Saya siap jika Teknik Mesin harus
diproses seperti yang Pembantu Rektor III bilang,”tuturnya pasrah.
Harmen
menjelaskan mahasiswa yang mundur itu bukan keponakan dari PR III,
tetapi dosen dan ia lupa namanya siapa. Hingga saat ini PR III belum
kordinasi dengan saya. Hanya dekan yang cerita banyak pengaduan tentang
keakraban kemarin tapi yang mengadu hanya via telepon tak berani
langsung tatap muka.
Dekan Fakultas Teknik, Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, DEA membenarkan bahwa ia berkunjung ke sana beberapa jam dan tidak melihat adanya indikasi kearah kekerasan. “Saya
kaget setelah diceritakan dari Teknokra dan setelah ini, kami dari
pihak Fakultas akan meyelidiki dan akan berkonsultasi kepada Pembantu
Rektor III untuk menyelesaikan masalah ini, ini kan sudah tindak kriminalitas,” tegasnyanya.
Ia mengatakan dulu Teknik Sipil ada kekerasan namun sekarang sudah aman, tidak ada lagi dan sebenarnya makrab itu tidak disetujui sebelumnya.
Semua Itu Bohong
Berbeda
dengan Boy dan Sutan, Sekertaris Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin
(Himatem) membantah bahwa di Teknik Mesin ada kekerasan. “Tak ada kekerasan yang terjadi di keakraban semuanya bohong, termasuk pada saat pemilihan komti. Ia menerangkan bahwa pemilihan komti itu ada lima kriteria yaitu kuat fisik, kuat mental, didengar oleh angkatan (mempunyai pengaruh), disiplin dan berjiwa pemimpin.
Bagaimana cara melihat mereka layak jadi komti atau tidak maka dilihat ketika mereka pushup 50 kali. Setelah itu mereka ditanya siapa yang berani jadi komti. Mereka umumnya malu-malu dan menunduk maka harus ditanya.
Yang mengajukan diri menjadi komti akan dikerubungi sekitar sepuluh orang untuk ditanya-tanya hingga ia down.
Biasanya pertanyaan seputar kenapa mengajukan diri jadi komti. Atau
siap tidak ia menjadi komti. Dan kenapa ia berani jadi komti. “Tidak
ada istilah mereka harus memakai celana dalam lalu disuruh
tonjok-tonjokan. Saya jamin pemilihan komti tak ada yang seperti itu
pake baju kok,” tegas galih.
Begitu juga dengan Ketua Pelaksana Keakraban, Baron Hariyanto Teknik Mesin 2010. Menurutnya tak
ada kekerasan sama sekali yang ada hanya didorong sedikit dan bukan
ditampar hanya memukul wajah pelan sambil ia mempraktekan.
Ia
pun menjelaskan runutan acaranya berangkat siang sampe sana jam tiga
sore lalu langsung pengkondisian, mereka disuruh beres-beres. Lalu dibuatlah lingkaran yang tadi dibilang lingkaran setan itu acara doktrin.
Lalu materi yang diisi dosen, lalu disuruh tidur, kemudian hari kedua pagi-pagi outbound dengan alumni dan abang-abang tingkat. Kemudian perkenalan dengan abang-abang tingkat. Sekertaris jurusan dan dekan pun mengecek lalu malam harinya menyalakan api unggun dan pentas seni. Kemudian dilanjutkan tidur lagi.
Hari
ketiga outbound baru dengan himatem, yang kemarin bukan. Pembagian
kaos, siangnya pelantikan dan pemyematan resni sebagai mahasiswa Teknik
Mesin. Menurut mereka berdua memang ada dosen yang memantau namun sebentar dan ship-shipan.
Untuk
arak-arakan itu gak wajib gak ada hukumannya. Itu hanya bentuk
apresiasi kepada kakak tingkat yang wisuda. Jadi gak bener kalo gak ikut
arak-arakan di pukul sampe bengkak tangannya. “Kemaren aja saya lebih milih UTS daripada arak-arakan,”terang Galih.
Bukan Lingkaran Setan
Baron membantah bahwa itu lingkaran setan. Menurutnya tak ada istilah itu. Tak ada lingkaran setan. Yang ada lingkaran yang dibuat oleh para pengurus dan alumni yang mengelilingi para mahasiswa baru.
Hingga
mereka bingung karena diteriakin setelah bingung baru mereka didoktrin.
Ia juga membantah banyaknya mahasiswa yang mengundurkan diri menurutnya
yang mengundurkan diri hanya satu orang itupun karena alasan nglaju
dari pringsewu ke Unila jadi tak mungkin ia bisa mengikuti kegiatan kumpul pagi kita terus menerus.
Kegiatan pagi dimulai dari jam enam hingga pukul setengah delapan pagi. Sore hari dari pukul tiga hingga lima sore. Tiap hari kecuali Sabtu dan Minggu. Kegiatan
yang kami lakukan yaitu mengenalkan karakter dosen, pelajaran,
perkuliahan,seperti kalo ada praktikum bisa minjem catetan ke abang yang
mana. Kegiatan ini hanya sampai keakraban saja, sekarang sudah tak ada
lagi. Ada sih terkadang hanya folow up aja.
Kekerasan Itu Wajar
Menanggapi kekerasan setiap tahunnya terjadi di Teknik Mesin, Gubernur Teknik Tri Wibowo ’09 angkat bicara. ”Sebenarnya
kalau dibilang kekerasan sih enggak, kontak fisiknya itu tidak brutal,
bisa dibedain antara yang brutal, gertak, dan itu ujian.
Menurutnya dari propti, pemilihan komti hingga keakraban semua telah dikonsepkan dan ada panitianya. Pemilihan
komti memang lebih berat karena menggunakan tes mental. Karena komti
adalah jabatan seumur hidup bukan seperti presiden yang bias digeser
jabatannya dan mereka pun punya tim kesehatan.
“Manfaat dari ini adalah agar angkatan bisa solid dan kami terus mendoktrin mereka untuk menjunjung tinggi solidarity forever. Ibaratnya kami sedang membangun sebuah kerajaan besar, gak ada tuh superman, superwoman, yang ada kita sedang membangun superlink dan kalau efek itu ditimbulkan tidak langsung tiba-tiba cess.. tetapi berproses,” jelasnya.
Menurutnya setelah makrab tetap aka nada kumpul-kumpul seperti biasa namun lebih bersifat akademis. Seperti moment sharing dan berbagi pengalaman abang-abangnya sama adik-adiknya dan membantu adik mahasiswa baru membahas perkuliahan.
Baron pun mengatakan bahwa hal itu wajar. Keakraban hanya sebatas melatih mental keterlaluan jika dibilang kekerasan. Jika digertak dan disuruh push up saja dibilang kekerasan alangkah berlebihan.
.
Teknik Mesin Tak Seperti Mereka Bilang
Kegiatan keakraban yang kami lakukan untuk membentuk solid angkatan, mengenalkan kehidupan di Teknik Mesin. “Teknik Mesin gak seperti yang mereka bilang bahwa suka melakukan kekerasan. Kita solidairity forever dari mahasiswa baru hingga alumni masih dekat bersatu hingga sekarang. Bersatu untuk selamanya,” terang Galih.
Galih pun mengatakan bahwa kegiatan mereka juga ada yang positif contohnya saja Mechanical Engenering Expo yang Teknik Mesin lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional.
Serupa dengan Galih, Lusmeila pun mengakui keunggulan mahasiswa Teknik Mesin meski mereka suka kekerasan. ”Tetapi, kalau soal akademis, mereka itu kreatifitasnya bagus dan mereka semua anak-anak yang kreatif,” tuturnya bangga.
